OLEH: Andhika Djamil (UIN Datokarama Palu)
KABAR68, – Di era digital saat ini, game online bukan lagi sekadar hiburan. Ia telah menjadi ruang interaksi sosial baru bagi anak muda. Namun, di balik keseruannya, ada satu fenomena yang makin terasa biasa, yaitu penggunaan kata-kata kasar saat bermain.
Bagi sebagian pemain, berkata kasar dianggap hal lumrah. Bahkan, ada anggapan bahwa bermain game tanpa umpatan terasa kurang hidup. Emosi saat kalah, tekanan dalam permainan, hingga interaksi dengan pemain lain sering kali menjadi pemicu. Sayangnya, kebiasaan ini perlahan berubah dari sekadar ekspresi sesaat menjadi budaya komunikasi.
Masalahnya bukan hanya soal kata-kata, tetapi bagaimana bahasa membentuk kebiasaan dan karakter. Ketika umpatan terus diulang, apalagi di ruang yang diakses setiap hari, ia bisa menjadi refleks yang terbawa ke kehidupan nyata. Tidak sedikit yang tanpa sadar menggunakan bahasa kasar di luar game baik dalam pergaulan, media sosial, bahkan lingkungan akademik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ruang digital tidak sepenuhnya terpisah dari kehidupan nyata. Apa yang terjadi di dalam game turut memengaruhi cara seseorang berinteraksi di dunia nyata. Jika dibiarkan, normalisasi kata kasar dapat menurunkan kualitas komunikasi dan empati di kalangan anak muda.
Namun, menyalahkan game sepenuhnya juga bukan solusi yang tepat. Game hanyalah media; yang menentukan adalah bagaimana pemain menggunakannya. Di sinilah pentingnya kesadaran individu dan kontrol diri. Bermain kompetitif memang memicu emosi, tetapi bukan berarti harus dilampiaskan dengan kata-kata yang merendahkan orang lain.
Selain itu, komunitas pemain juga memiliki peran besar. Lingkungan yang terbiasa dengan komunikasi toxic akan terus melanggengkan kebiasaan tersebut. Sebaliknya, komunitas yang lebih sehat dapat menciptakan budaya bermain yang kompetitif namun tetap saling menghargai.
Peran keluarga dan pendidikan juga tidak bisa diabaikan. Literasi digital bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana bersikap di dalamnya. Mengajarkan etika komunikasi di ruang digital menjadi hal yang semakin penting di tengah perkembangan zaman.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana, apakah kita ingin game online menjadi ruang pelarian emosi yang tidak terkendali, atau justru menjadi ruang hiburan yang tetap menjunjung nilai saling menghargai?
Pilihan itu ada di tangan para pemainnya terutama generasi muda yang menjadi pengguna terbesar. Karena pada akhirnya, cara kita berbicara, bahkan di dunia virtual, tetap mencerminkan siapa diri kita sebenarnya.(*)






