Brigjen Pol Helmi Kwarta Salah Satu Figur Yang Diperhitungkan
BANGGAI, – Tak lama lagi, Kapolda Sulteng, Irjen Pol Endi Sutendi akan memasuki purna bhakti. Berdasarkan dinamika mutasi ditubuh Polri dan kebutuhan organisasi, peluang putra daerah untuk menduduki jabatan pimpinan Polda Sulteng ditahun 2026 sangat terbuka dan krusial. Kebijakan Kapolri yang menekankan profesionalisme dan transparansi, dipadukan dengan pendekatan berbasis wilayah, menjadikan perwira putra daerah yang berprestasi sebagai asset penting dalam menjaga stabilitas keamanan di daerahnya.
Membaca peluang ditahun 2026, pasca kepemimpinan Kapolda Irjen Endi Sutendi, sosok putra daerah Sulteng, yakni Wakapolda Sulteng, Brigjend Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf bukan lagi sekedar pelengkap, melainkan pilihan strategis sebagai salah satu figur menjadi calon pimpinan dijajaran Polda Sulteng, khsususnya diwilayah dengan karakteristik sosial-budaya yang unik. Kunci utama bagi perwira adalah kombinasi antara local wisdom dan prestasi professional yang menonjol.
Menanggapi isu putra daerah di Sulteng dalam konteks figur untuk menggapai pimpinan puncak di jajaran Polda Sulteng, pejabat kebijakan publik Kementerian PAN/RB, Nadjamudin Mointang menilai, tidak ada yang tidak mungkin jika figur Wakapolda Brigjen Pol Helmi Kwarta Kusuma salah satu perwira tinggi Polri adalah figur putra daerah terbaik di Sulteng yang menarik untuk dibaca tidak hanya dari jejak karir formalnya, tetapi juga dari kombinasi nilai yang dibawahnya dalam setiap penugasan.
“Dalam konteks dinamika kepemimpinan kepolisian di daerah, terutama diwilayah yang memiliki kompleksitas keamanan, seperti Sulawesi Tengah, sosok dengan kombinasi kapasitas operasional, integritas dan kedekatan sosial menjadi sangat relevan,” ujar Nadjamudin kepada Radar Sulteng, Rabu (15/4).
Menurutnya, berangkat dari karir reserse, Birigjen Helmi ditempa dalam dunia penegakan hukum yang menuntut ketelitian, ketegasan, sekaligus kecermatan membaca situasi. Latar belakang ini menjadi pondasi kuat dalam membentuk karakter kepemimpinan yang berbasis problem solving.
Pengalaman tersebut, kata Nadjamudin, semakin terasa saat terlibat dalam operasi tinombala, sebuah operasi strategis dalam penanganan terorisme di Sulteng. Keterlibatan Wakapolda Brigjen Helmi Kwarta dalam operasi ini bukan hanya soal aspek keamanan, tetapi juga menunjukkan kemampuan bekerja dalam tekanan tinggi, koordinasi lintas institusi, serta pendekatan persuasif ditengah masyarakat yang sensitive terhadap konflik.
Pada fase berikutnya, saat menjabat di Direktorat Reserse Narkoba Polda NTB, Brigjen Helmi menunjukkan capaian konkret yang terukur. Upaya pemberantasan Narkoba yang dilakukannya tidak hanya bersifat represif, tetapi juga menyentuh aspek pencegahan dan edukasi. Puncaknya adalah keberhasilan meraih predikat Wilayah Benas dari Korupsi (WBK) pada tahun 2021. Prestasi ini tidak hanya menunjukkan tata kelola organisasi yang baik, tetapi juga komitmen terhadap integritas dan reformasi birokrasi ditubuh Polri.
“Namun, yang membuat profil Helmi Kwarta menjadi lebih utuh adalah sisi kemanusiannya. Dalam berbagai interaksi sosial, Ia dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan mudah bergaul. Nilai ini menjadi penting dalam konteks kepemimpinan modern yang tidak lagi sekedar hirarkis, tetapi juga partisipatif. Relasi persahabatan yang terbangun dalam komunitas “Bintanak”, yang tetap terjaga hingga saat ini telah menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan menjaga loyalitas, kepercayaan, dan ikatan emosional jangka panjang. Ini adalah modal sosial yang tidak bisa diremehkan, terutama dalam membangun stabilitas organisasi dan dukungan masyarakat,” jelas Nadjamudin.
Menyinggung bagaimana peluang Pak Helmi Kwarta menjadi orang nomor satu dijajaran Polda Sulteng ditahun 2026 ini ? Nadjamudin menegaskan jika dilihat dari beberapa variable utama, rekam jejak operasional, pengalaman di wilayah Sulteng, keberhasilan dalam reformasi birokrasi, serta kapasitas kepemimpinan yang humanis, sosok Brigjen Helmi, memiliki peluang yang cukup kompetitif.
“Faktor putra daerah Sulteng, Sosok Brigjen Helmi Kwarta asal Kab. Banggai juga menjadi nilai tambah, terutama dalam memahami karakter sosial budaya lokal serta membangun pendekatan yang lebih kontekstual dalam menjaga keamanan dan ketertiban. Namun demikian, dinamika penentuan jabatan seorang Kapolda tidak hanya ditentukan oleh kapasitas individu semata. Ada faktor lain seperti kebutuhan organisasi Polri secara nasional, konfigurasi senioritas, rekam jejak lintas fungsi, serta pertimbangan strategis pimpinan,” tandas Nadjamudin.

Dalam konteks ini, ujarnya, peluang Brigjen Helmi Kwarta akan sangat ditentukan oleh sejauh mana ia terus menjaga konsistensi kinerja, memperluas eksposur kepemimpinan strategis, dan tetap berada dalam orbit penugasan yang relevan dengan kebutuhan institusi.
“Jika Polri membutuhkan figur Kapolda Sulteng, yang memahami medan, berpengalaman dalam operasi keamanan, berintegrasi dalam tata kelola, serta memiliki sentuhan humanis dalam kepemimpinan, maka Putra Daerah Sulteng, Brigjend Helmi Kwarta adalah salah satu figur yang layak untuk diperhitungkan, selain rekam jejak mumpuni, dimana putra daerah yang memenuhi kriteria kompetensi memiliki keunggulan dalam memahami kultur lokal, ” tutup Nadjamudin. (MT)






