OLEH: DEFAN MUHAMAD
“Tumbuh lebih baik, cari panggilanmu / Jadi lebih baik dibanding diriku” (Nina, .Feast)
KABAR68, – Lirik ini sering dianggap sebagai pembebasan bagi anak untuk mengejar mimpi. Ia dikutip di wisuda, bio LinkedIn, dan ucapan selamat ulang tahun. Namun, secara logis, seorang anak tidak akan pernah bisa menjadi “lebih baik” jika ia harus memulai garis start-nya dengan beban finansial generasi sebelumnya. Sebagai mahasiswa yang menatap dunia kerja yang semakin kompetitif, kita harus berani menyatakan satu kebenaran pahit: Menjadikan anak sebagai jaring pengaman finansial adalah kegagalan perencanaan hidup, bukan wujud kasih sayang.
Paradoks Pertumbuhan Ekonomi
Secara matematis, kesejahteraan sebuah keluarga hanya bisa meningkat jika setiap generasi memiliki daya simpan atau savings rate yang lebih besar dari generasi sebelumnya. Ini hukum akumulasi modal paling dasar. Jika lulusan baru harus menyisihkan 40-60% gajinya untuk membiayai orang tua dan adik-adiknya, ia kehilangan momentum emas untuk berinvestasi pada dirinya sendiri. Sertifikasi profesi, kursus bahasa, dana darurat, hingga DP rumah pertama—semua tertunda. Biaya peluangnya mahal: setiap Rp1 juta yang tidak diinvestasikan di usia 23 tahun bisa bernilai Rp10 juta saat usia 50 tahun karena efek bunga majemuk.
Dampaknya sistemik. Anak tersebut akan menua tanpa aset yang cukup, tanpa proteksi kesehatan mandiri, dan pada akhirnya ia akan terpaksa melakukan hal yang sama kepada anaknya kelak: meminta dibiayai. Ini skema Ponzi antar-generasi yang memastikan keluarga tersebut tetap berada di kelas ekonomi yang sama selamanya. Mobilitas sosial macet bukan karena anak malas, tapi karena desain keuangan keluarga yang tidak memberi ruang untuk lepas landas.
Investasi vs Hibah: Meluruskan Logika Transaksi
Banyak orang tua berargumen, “Saya sudah keluar banyak uang untuk sekolahmu, sekarang giliranmu membalas.” Kalimat itu terdengar adil, tapi cacat secara logika kontrak. Anak tidak pernah melakukan kontrak kerja sama atau peminjaman modal untuk dilahirkan. Secara hukum biologis dan moral, tanggung jawab orang tua adalah menyediakan fasilitas hingga anak mandiri.
Jika biaya pendidikan dianggap sebagai “utang” yang harus dibayar kembali dengan bunga berupa biaya hidup orang tua, maka hubungan tersebut bukan lagi keluarga, melainkan transaksi komersial yang tidak konsensual. Anak tidak menandatangani surat utang saat lahir. Mengubah kasih sayang menjadi skema cicilan adalah manipulasi emosional yang dibungkus nilai “bakti”. Akibatnya, banyak anak muda menunda menikah, menunda punya anak, atau memilih childfree karena trauma melihat dirinya dijadikan aset likuid keluarga.
Beban Ganda di Pasar Kerja yang Brutal
Realitas pasar kerja hari ini tidak ramah. UMR naik lambat, harga properti naik cepat, dan inflasi gaya hidup menggerus gaji pertama. Menambahkan beban sandwich generation sama dengan menyuruh seseorang lari maraton sambil menggendong dua orang dewasa. Tidak heran angka stres finansial pada usia 25-35 tahun melonjak. Produktivitas turun, inovasi mandek, karena otak dipakai untuk menghitung “bulan ini kirim berapa ke rumah” bukan “skill apa yang harus saya pelajari”.
Membangun Kemandirian Dua Arah
Untuk memutus rantai ini, solusinya harus praktis dan tidak emosional:
Stop Normalisasi “Sandwich Generation”
Kita harus berhenti mengagungkan anak yang mengorbankan seluruh hidupnya demi ekonomi keluarga sebagai “pahlawan”. Sebut saja “korban kegagalan sistem keuangan keluarga”. Narasi media perlu digeser: yang heroik bukan anak yang habis-habisan, tapi keluarga yang berhasil merencanakan pensiun tanpa membebani anak.
Kemandirian Finansial Orang Tua
Mahasiswa masa kini harus mengedukasi orang tua, atau calon dirinya sendiri nanti, bahwa kado terbaik untuk anak bukanlah warisan harta, melainkan dana pensiun yang cukup. BPJS, DPLK, reksadana pensiun, atau aset kos-kosan kecil jauh lebih membebaskan dibanding ekspektasi “nanti anak yang biayai”.
Bakti Versi Baru: Pendampingan, Bukan Pembiayaan
Bakti tidak hilang, hanya berubah bentuk. Hadir saat orang tua sakit, membantu digitalisasi usaha kecil mereka, atau menemani kontrol ke rumah sakit adalah bakti yang tidak membunuh masa depan finansial. Yang kita tolak adalah bakti yang dijadikan pos pengeluaran tetap setiap bulan.
Simpulan
Kasih sayang yang logis adalah kasih sayang yang membebaskan. Jika kita ingin anak kita “menjadi lebih baik” sesuai lirik lagu .Feast, maka kita harus membiarkan mereka berlari tanpa beban ransel berisi utang masa lalu. Memutus rantai sandwich generation bukan berarti durhaka, melainkan upaya logis agar di masa depan, tidak ada lagi anak yang harus memilih antara memberi makan orang tuanya atau memberi masa depan bagi anaknya sendiri.
Bakti adalah pilihan moral yang lahir dari cinta, bukan kewajiban finansial yang dipaksakan oleh absennya perencanaan. Keluarga yang sehat secara ekonomi adalah keluarga yang tiap generasinya bisa berkata, “Tenang, kami sudah cukup. Fokuslah kejar mimpimu.” Hanya dengan itu, lirik “jadi lebih baik dibanding diriku” bisa menjadi kenyataan, bukan sekadar estetik.(*)






