POSO, – Radsr Sulteng, – Akibat musim kemarau yang berkepanjangan yang disebabkan oleh pengaruh El-Nino hampir 5-6 bulan terakhir, pihak PT Poso mulai sepekan lalu atau akhir bulan Oktober 2026 terpaksa mulai melalukan rekayasa cuaca atau penyemaian awan ( cloud seeding) atau Tehnologi Modifikasi Cuaca ( TMC) atau biasa juga disebut dengan Operasi Modifikasi Cuaca ( OMC) untuk memancing agar hujan segera turun.
Meskipun di awal pekan ini, beberapa daerah sudah mulai hujan, kondisi di pesisir danau Poso belum Kembali seperti sedia kala.
Dari pantau media ini di sekitar Kota Poso Sulawesi Tengah sudah beberapa hari ini terdengar raungan mesin pesawat terbang berbadan kecil yang berada hampir di atas kota Poso. Seperti sekitar pukul 13.30 Wita atau Senin siang terpantau pesawat jenis cesna terbang berputar – putar di sekitar pinggiran kota Poso seperti pada akhur bulan Mei beberapa bulan lalu saat pesawat jenis yang sama melakukan TMC yang saat itu curah hujan di wilayah Kabupaten Poso langsung meningkat.
Sehubungan dengan hal tersebut, pihak PT. Poso Energy melalui pejabat humasnya Muhamad Sapri yang dikonfirmasi media ini Senin, 2/11/2026 membenarkan jika pihaknya telah melakukan TMC agar hujan segera turun.
“Iya benar pak, kami sudah hampir seminggu terakhir ini setiap hari melakukan TMC atau OMC. Kegiatan ini akan dilaksanakan sampai sebulan ke depan, ” tulisnya melalui sambungan whatsaapnya.
Sejumlah masyarakat petani yang ada di sekitar kota Poso yang dimintai tanggapannya sehubungan adanya upaya pigak PT. Poso Energy yang melakukan upaya modifikasi cuaca agar hujan segeran turun mengaku sangat berterima kasih dengan program tersebut.
“Pada dasarnya kami sebagai warga petani sabgat bersyukur dengan adanya rekayasa cuaca agar hujan segera datang. Kami sudah merugi karena tanaman kami banyak yang mati karena kemarau. Bukan hanya itu kami sudah bosan dan dirugi dengan adanya pemadaman bergiliran tiap hari dari pihak PLN karena berkurangnya debet air ke turbin PLTA. Akibat kemarau selain tumbuhan kami mati, lahan kami terbakar dan pengaruh asap akibat Karhutla. Saya dukung rekayasa cuaca tetsebut. Buktinya sudah 3 ksli hujan turun di kota Poso dalam seminggu ini, ” tutur Usman warga Kelurahan Moengko Kecamatan Poso Kota itu.
Dari pantauan media ini di sekitar pesisir danau Poso saat ini debet air danau ke tiga terbesar di Indonesia tersebut, telah menyusut sehingga 30 persen karena musim kemarau hampir 6 bulan berjalan. Bahkan saat ini tepi danau yang berpasir kuning keemasan itu terhampar tiga sampai 400 meter kering jadi tempat lapangan bola dan jalan bagi kendaraan rida dua dan empat yang dulunya terendam air danau ketika musim oenghujan normal.
Bahkan saat ini jalan lintas ke beberapa Desa di pesisir danau Poso seperti dari Desa Taipa ke Desa Meko melewati beberapa desa boleh melintasi pantai berpasir itu baik untuk kendaraan mobil dan motor boleh melewati pinggiran danau akibat menyusutnya air danau Poso yang semakin dangkal itu. (dy)






