PALU, Radar Sulteng — Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) yang jatuh setiap tanggal 10 Oktober, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Cabang Sulawesi Tengah (Sulteng) menggelar serangkaian kegiatan edukasi dan pelayanan masyarakat.
Momen ini sekaligus menjadi ajang pengenalan keberadaan PDSKJI Cabang Sulteng kepada publik di wilayah Sulawesi Tengah.
Giat peringatan HKJS tahun ini mengusung tema “Lived Experience Heard: Real Voices, Real Change” (Pengalaman Hidup yang Didengar: Suara Nyata, Perubahan Nyata). PDSKJI Sulteng menerjemahkan tema tersebut melalui edukasi pencegahan perilaku bullying (perundungan) serta deteksi dini gangguan jiwa.
Ketua Panitia Pelaksana HKJS PDSKJI Sulteng, dr. Banu Kadgada Kalingga Murda, Sp.KJ, menjelaskan bahwa salah satu agenda kegiatan adalah penyuluhan interaktif di lingkungan sekolah, yang diadakan di SMPN 11 Palu dan SMP Madani. Target sasaran dalam kegiatan ini meliputi para remaja, guru, serta Guru Bimbingan dan Konseling (BK).

“Antusiasme pihak sekolah sangat luar biasa. Kami awalnya memperkirakan peserta hanya perwakilan, tetapi sekolah memfasilitasi satu angkatan penuh untuk berpartisipasi. Para siswa aktif bertanya dan berbagi pengalaman pribadi. Bahkan para guru turut berdiskusi mengenai tantangan dalam mendampingi remaja saat ini,” ujar dr Banu.
Menariknya, di tengah sesi penyuluhan, seorang Guru BK turut menyampaikan struggle dan hambatan nyata yang dihadapi dalam menangani berbagai permasalahan kesehatan mental siswa di sekolah. Momen diskusi tersebut lantas memantik ide baru bagi PDSKJI Sulteng untuk merancang program pelatihan bagi konselor kesehatan jiwa.
“Dari pertanyaan dan cerita Guru BK tersebut, timbul pemikiran kami untuk menggelar pelatihan konselor kesehatan jiwa ke depannya. Konselor ini nantinya tidak harus memiliki latar belakang pendidikan dokter, psikolog, atau tenaga medis lainnya, melainkan bisa berasal dari siapa saja di masyarakat yang memiliki minat dan kepedulian tinggi terhadap dunia kesehatan jiwa. Rencana ini akan segera kami bahas bersama dokter-dokter spesialis jiwa pdskji sulteng,” pungkas dr. Banu.
Aksi Simpatik dan Pelayanan Gratis di Car Free Day
Selain kegitan edukasi di sekolah, PDSKJI Sulteng juga menggelar sosialisasi pada tanggal 18 Oktober di Car Free Day (CFD) Taman Vatulemo, Kota Palu. Kegiatan ini melibatkan dokter spesialis jiwa se-Sulteng, Himpunan Psikologi Indonesia, serta Tim Bantuan Medis (TBM) Axis FK Tadulako dan TBM Arteria FK Alkhairaat.
Di kegiatan tersebut, masyarakat dapat menikmati layanan pemeriksaan kesehatan fisik umum dan skrining deteksi dini kesehatan jiwa gratis. Masyarakat juga diperkenalkan dengan aplikasi skrining mandiri berbasis scan barcode yang dilakukan oleh psikolog RSUD Anutapura. Melalui pemindaian barcode, masyarakat dapat mengisi data mandiri dan memperoleh skor indikasi awal. Jika hasil skrining menunjukkan perlunya penanganan lanjutan, sistem akan merekomendasikan pengguna untuk berkonsultasi dengan profesional.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa di Sulawesi Tengah kini telah berdiri PDSKJI Cabang Sulteng. Kami membagikan daftar seluruh dokter spesialis jiwa beserta lokasi praktiknya di berbagai kabupaten/kota. Mulai dari Palu, Sigi, Donggala, Tolitoli, Buol, Parigi, Poso, Ampana, hingga Morowali sehingga akses layanan kesehatan jiwa semakin dekat dengan masyarakat,” tambah dr. Banu.
Ketua PDSKJI Cabang Sulteng, dr. Andi Soraya T. Uleng, Sp.KJ, M.Kes, menegaskan bahwa peringatan HKJS tidak berhenti pada acara seremoni belaka. PDSKJI Sulteng telah menyiapkan langkah konkret pasca kegiatan guna meningkatkan kepedulian masyarakat dan mengubah stigma terhadap gangguan jiwa yang masih tinggi.
dr Andi Soraya menekankan pentingnya penyelenggaraan seminar berkala untuk mengubah persepsi publik dan mengikis stigma negatif terkait gangguan jiwa.
“Kami juga siap memperkuat kerja sama lintas sektor, salah satunya dengan BNN (Badan Narkotika Nasional), untuk memberikan pembinaan dan rehabilitasi terpadu bagi pengguna NAPZA, terutama mereka yang telah mengalami gangguan kesehatan mental,” tutupnya. (kmla)






