Kendaraan Pribadi Masih Padati Kantor Wali Kota Palu
PALU, – Imbauan Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, agar ASN dan PPPK menggunakan Bus Rapid Trans (BRT) Palu setiap Senin hingga Rabu belum berjalan maksimal di lapangan.
Kebijakan ini diterapkan sebagai bagian dari langkah efisiensi anggaran di tengah dinamika global, tanpa mengurangi kinerja aparatur. Bahkan, wali kota memperketat aturan dengan menerapkan sistem absensi di dalam bus.
“Mulai minggu depan, seluruh pegawai wajib berangkat ke kantor menggunakan bus. Kendaraan dinas atau pelat merah harus diparkir di kantor. Kehadiran di ‘Hadirku’ dihitung sejak berada di dalam bus,” tegas Hadianto.
Namun, berdasarkan pantauan Radar Sulteng pada Selasa (15/4/2026), sejumlah ASN masih menggunakan kendaraan pribadi. Mereka terlihat memadati jalanan di sekitar Kantor Wali Kota Palu. Kendaraan pribadi juga tampak terparkir di depan kantor tersebut.
Tim Radar Sulteng turut mencoba menaiki armada Trans Palu dari halte depan Lapangan Vatulemo, melintasi Jalan Prof. Moh. Yamin, Dewi Sartika, Karanja Lembah, Touwa hingga Taman GOR.
Di dalam bus, hanya terdapat lima ASN yang memanfaatkan layanan tersebut. Saat berhenti di halte Moh. Yamin, satu ASN turun dari bus. Sementara di beberapa titik pemberhentian, terlihat ASN berdiri di tepi jalan menunggu bus dengan rute berbeda.
Ardi, salah seorang ASN di lingkungan Pemerintah Kota Palu, menilai tarif Trans Palu terjangkau dengan fasilitas yang cukup nyaman.
“Kalau biaya, naik bus Trans Palu lebih murah, hanya Rp5.000 dan bisa berpindah-pindah bus. Tapi memang agak lambat karena harus singgah di halte,” ujarnya.
Tarif tersebut sebelumnya disampaikan Kepala Dinas Perhubungan Kota Palu, Trisno Yunianto. Ia menjelaskan bahwa pengguna cukup membayar Rp5.000 untuk penggunaan bus selama satu hari.
“Dalam satu hari, meski naik bus hingga sepuluh kali dengan rute yang sama atau berbeda, tetap hanya bayar Rp5.000. Yang penting bukti pembayaran tidak hilang,” jelasnya.
Sistem tarif ini berlaku selama layanan bus masih beroperasi pada hari yang sama, sehingga biaya tersebut sudah mencakup perjalanan pulang dan pergi.
Saat bus tiba di Taman GOR sekitar pukul 17.40 WITA, terlihat belasan ASN mengenakan pakaian keki menunggu kedatangan bus. Mereka kemudian berbondong-bondong menaiki armada tersebut.
Sementara itu, ASN lain yang enggan disebutkan namanya mengaku masih memilih menggunakan kendaraan pribadi dengan alasan kebutuhan keluarga.
“Saya pilih naik motor karena harus mengantar anak ke sekolah. Kalau ada urusan mendadak juga lebih cepat,” katanya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan penggunaan transportasi umum masih menghadapi tantangan, terutama terkait kebiasaan serta kebutuhan mobilitas harian ASN. (NAS)






