Minta Menu MBG Pakai Hasil Nelayan
BANGGAI, – Salah satu Kepala Sekolah SD di wilayah Toili meminta perubahan menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengusulkan agar menu berbahan ayam dan telur diganti dengan ikan demi kesehatan siswa dan pemanfaatan potensi lokal.
Kepala sekolah tersebut mengaku telah menyampaikan langsung permintaan itu kepada pihak penyedia dapur MBG. Ia menilai konsumsi ikan lebih aman dan sesuai dengan kondisi daerah pesisir seperti Toili.
“Saya bilang kalau bisa tidak usah ayam dan telur, ganti saja ikan. Biar saja ikan,” ujarnya saat diwawancarai melalui sambungan telepon, Selasa (14/4/2026).
Ia menjelaskan, pertimbangan tersebut muncul dari kekhawatiran terhadap dampak jangka panjang konsumsi ayam potong bagi anak-anak. Selain itu, ketersediaan ikan yang melimpah di daerahnya menjadi alasan kuat untuk mengubah menu.
“Soalnya ayam itu kan ayam potong, takutnya ada dampak untuk beberapa tahun ke depan. Kalau ikan kan setiap hari dimakan tidak ada dampak negatifnya,” katanya.
Menurutnya, penggunaan ikan juga dapat memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat, khususnya nelayan.
“Di sini banyak ikan, jadi lebih baik. Bisa juga membantu masyarakat nelayan,” tambahnya.
Terkait isu penolakan MBG karena makanan tidak layak konsumsi, ia membantah kabar tersebut. Ia menegaskan, pihak sekolah hanya pernah menolak menu tertentu seperti mie ayam, bukan karena makanan basi atau busuk.
“Bukan karena busuk. Pernah itu dikasih mi, saya tolak. Saya kembalikan, karena saya tidak mau anak-anak makan seperti itu,” tegasnya.
Ia juga menyebut, keputusan terkait menu masih sebatas pembahasan internal sekolah dan belum melibatkan orang tua siswa secara luas.
“Kalau orang tua murid belum. Ini masih kami di sekolah saja,” ujarnya.
Saat ini, sekolah belum kembali menerima distribusi MBG setelah adanya perpindahan dapur penyedia. Kepala sekolah berharap pemerintah dapat segera menyalurkan kembali program tersebut dengan menu yang lebih sesuai.
“Kami berharap kembali menerima MBG, namun bukan ayam potong dan telur,” pungkasnya. (NAS)






