back to top
Senin, 27 April 2026
BerandaPALUBegadang Menjadi Salahsatu Perusak Hubungan Sosial

Begadang Menjadi Salahsatu Perusak Hubungan Sosial

OLEH: Nira Riarni (UIN DATOKARAMA PALU)

KABAR68, – Kebiasaan bergadang yang kian merajalela di kalangan anak muda bukan sekadar masalah tidur, melainkan bom waktu yang menggerus hubungan harmonis antara manusia sebagai individu dan masyarakat luasnya. Bayangkan generasi muda yang seharusnya menjadi penerus  penggerak bangsa justru terjebak dalam lingkaran kelelahan kronis: mata merah karena scrolling TikTok hingga subuh, pikiran kusut akibat kurang tidur, dan semangat gotong royong yang pudar karena energi habis untuk urusan pribadi semata. Ini bukan hanya soal kesehatan pribadi, tapi juga pengkhianatan terhadap peran kita sebagai makhluk sosial yang saling bergantung.

Pada level individu, bergadang merampas fokus dan emosi stabil, bayangkan mahasiswa yang ngantuk di kelas atau pekerja muda yang sering bolos karena kecapean . Akibatnya, mereka gagal berkontribusi maksimal: prestasi akademik anjlok, produktivitas kerja turun, hingga risiko depresi meningkat yang membuat interaksi sosial jadi toxic, seperti mudah marah ke teman atau cuek pada tetangga.

Di masyarakat, dampaknya berlipat: pemuda yang lesu ini membebani ekonomi keluarga dan negara melalui pengangguran terselubung, sementara solidaritas sosial merosot, siapa lagi yang mau ikut karang taruna atau bakti sosial kalau badan rasanya kayak zombie? Individualisme ala “urusan gue sendiri” pun semakin kuat, memicu konflik antargenerasi di mana orang tua menilai anak muda “manja dan tak peduli”.

Sudah saatnya anak muda sadar bahwa tidur bukan kemewahan, tapi tanggung jawab sosial. Mulai dari hal sederhana: matikan gadget jam 10 malam, rajut rutinitas olahraga pagi untuk sinkronkan jam biologis, dan ingatkan diri bahwa tidur cukup berarti energi lebih untuk berbagi—entah bantu tetangga atau inovasi di komunitas. Masyarakat dan pemerintah pun harus bergerak: sosialisasi anti-gadang di sekolah, regulasi konten malam hari, serta budaya “sleep positive” ala gotong royong digital. Jika tidak, kita bukan lagi manusia yang saling menguatkan, tapi sekumpulan individu lelah yang saling menyalahkan.(*)

BERITA TERKAIT >

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI >

Klarifikasi UNTAD Tak Sesuai Fakta di Lapangan

0
Camaba Luar Palu Tetap Wajib Jadwal Pemeriksaan di Palu PALU, – Polemik kebijakan pemeriksaan kesehatan bagi calon mahasiswa baru di Universitas Tadulako terus menuai sorotan. Setelah...

TERPOPULER >