back to top
Senin, 11 Mei 2026
BerandaPALUKopi, Outfit, dan Postingan Media Sosial di Lingkungan Kampus:...

Kopi, Outfit, dan Postingan Media Sosial di Lingkungan Kampus: Gaya Hidup atau Pencitraan?

OLEH: AZHAR ISMAIL NUR (UIN DATOKARAMA PALU)

KABAR68, – Di lingkungan kampus saat ini, gaya hidup mahasiswa perlahan ikut berubah seiring berkembangnya media sosial. Aktivitas sehari-hari tidak lagi sekedar dijalani untuk memenuhi kebutuhan akademik atau pribadi, tetapi juga mulai dipertimbangkan dari sisi “layak tidaknya” untuk dibagikan. Tanpa disadari, banyak keputusan sederhana seperti memilih tempat nongkrong, menentukan outfit, hingga menghadiri suatu kegiatan ikut dipengaruhi oleh bagaimana hal tersebut akan terlihat ketika diposting.

Hal ini cukup terasa ketika melihat kebiasaan mahasiswa saat pergi ke cafe. Banyak yang datang bukan semata-mata untuk berdiskusi atau sekadar beristrahat, tetapi karena tempat tersebut punya tampilan yang menarik. Faktor “estetik” sering kali jadi pertimbangan utama. Cafe dengan pencahayaan hangat, sudut ruangan yang rapi, dan konsep interior yang unik cenderung lebih diminati dibandingkan tempat yang sebenarnya lebih nyaman untuk duduk lama. Bahkan, pilihan minuman pun kadang bukan lagi soal selera, melainkan soal tampilan. Tidak sedikit yang memesan kopi atau minuman tertentu hanya karena terlihat bagus di kamera.

Fenomena lainnya juga terlihat dalam kegiatan kampus. Ada mahasiswa yang datang ke seminar, acara organisasi, atau kegiatan dengan tujuan utama mengambil dokumentasi. Mereka hadir untuk mengambil beberapa foto atau video, lalu merasa sudah “ikut berpartisipasi”. Setelah mendapatkan materi yang dianggap cukup untuk diposting, tidak jarang mereka memilih untuk tidak mengikuti kegiatan hingga selesai. Dari sini terlihat bahwa kehadiran sering kali hanya sebatas formalitas, bukan keterlibatan yang sebenarnya.

Kebiasaan ini juga berlanjut dalam budaya nongkrong di kalangan mahasiswa. Nongkrong yang dulu identik dengan berbagi cerita dan mempererat hubungan, kini hanya menjadi ajang untuk membuat konten. Tempat yang dipilih harus menarik, suasana harus mendukung, dan hasil foto harus sesuai ekspektasi. Akibatnya, momen kebersamaan sering kali menjadi nomor dua, karena perhatian lebih banyak tersita pada proses mengambil dan mengunggah konten.

Di satu sisi, hal ini wajar terjadi. Media sosial memang membuka ruang bagi mahasiswa untuk mengekspresikan diri, membangun citra, dan mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitarnya. Namun, masalah mulai muncul ketika pencitraan justru lebih diutamakan dibanding pengalaman itu sendiri. Aktivitas yang seharusnya dinikmati secara langsung justru terasa biasa saja karena fokus utamanya bergeser.

Dampak lain yang tidak kalah penting adalah munculnya standar tidak tertulis di kalangan mahasiswa. Seolah-olah, kehidupan mahasiswa harus selalu terlihat aktif, produktif, dan menarik. Padahal, apa yang tampil di media sosial sering kali hanya potongan kecil yang sudah dipilih dan disesuaikan. Realitas di baliknya belum tentu sama. Hal ini bisa memicu tekanan tersendiri bagi mahasiswa lain yang merasa harus mengikuti pola tersebut agar tidak dianggap tertinggal.

Pada akhirnya, kopi, outfit, dan postingan media sosial memang bisa menjadi bagian dari gaya hidup mahasiswa masa kini. Namun, semuanya bisa berubah menjadi sekedar pencitraan jika tidak disikapi dengan bijak. Yang dibutuhkan hanya keseimbangan bagaimana tetap bisa mengekspresikan diri tanpa kehilangan makna dari setiap aktivitas yang dijalani. Karena yang terpenting bukanlah bagaimana sesuatu terlihat di layar, melainkan bagaimana pengalaman itu benar-benar dirasakan dalam kehidupan nyata.(*)

BERITA TERKAIT >

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI >

Anwar Hafid Kembali Nahkodai Demokrat Sulteng Lima Tahun ke Depan

0
PALU, - Gubernur Sulawesi Tengah Dr. H. Anwar Hafid, M.Si. resmi terpilih kembali memimpin Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat Provinsi Sulawesi Tengah untuk...

TERPOPULER >