Digitalisasi Basis Data Jadi Senjata Baru Hilirisasi Kelapa di Parigi Moutong
PARIMO, – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong mulai membangun fondasi digital untuk mempercepat hilirisasi komoditas kelapa. Melalui peluncuran aplikasi Sistem Informasi Gerakan Hilirisasi Kelapa Terpadu (Si Gempita), pemerintah daerah ingin memastikan seluruh potensi kelapa dari hulu hingga hilir dapat dipetakan secara akurat sebagai dasar pengembangan industri berbasis data.
Launching aplikasi Si Gempita dilaksanakan oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Parigi Moutong, Aswini Dimple, SKM., M.Kes, sebagai bagian dari proyek perubahan yang dimotori dengan pendampingan Sekretaris Daerah Parigi Moutong, Zulfinasran, SSTP., M.AP, Kamis (2/7/2026).
Program tersebut mengusung tema Hilirisasi Kelapa Dalam Terpadu Kabupaten Parigi Moutong dan menjadi bagian dari implementasi program prioritas nasional yang selaras dengan Asta Cita Presiden, Program Berani Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, serta program unggulan Bupati dan Wakil Bupati Parigi Moutong melalui Gerbang Desa.
Aswini menjelaskan, digitalisasi basis data menjadi langkah awal yang sangat penting sebelum pembangunan ekosistem industri kelapa dilakukan secara menyeluruh.
“Melalui Si Gempita seluruh potensi kelapa dapat dipetakan secara digital sehingga kebijakan pembangunan industri nantinya berbasis data yang akurat,” ujarnya.
Peluncuran Si Gempita bukan sekadar menghadirkan aplikasi baru, melainkan menjadi instrumen utama dalam menyusun rantai pasok industri kelapa yang terintegrasi.
Melansir moderatnews,id, Parigi Moutong dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kelapa terbesar di Sulawesi Tengah. Namun sebagian besar hasil produksi masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku sehingga nilai tambah justru dinikmati daerah lain yang memiliki industri pengolahan.
Melalui implementasi Si Gempita, pemerintah daerah menargetkan Parigi Moutong bertransformasi menjadi pusat industri pengolahan kelapa berorientasi ekspor, menciptakan lapangan kerja berkualitas, menjaga stabilitas harga kelapa di tingkat petani melalui tata niaga yang sehat, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Pemerintah daerah juga menyiapkan Sentra Industri Kelapa Terpadu di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, sebagai pusat hilirisasi komoditas tersebut.
Kawasan industri itu diproyeksikan mampu menyerap produksi kelapa mencapai 35.891 ton per bulan dan mengolahnya menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah tinggi.
Apabila seluruh sistem berjalan optimal, kawasan tersebut diperkirakan mampu menggerakkan roda ekonomi sekitar 23.290 keluarga petani kelapa di Kabupaten Parigi Moutong.
Aswini menyebutkan data menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang selama ini belum tergarap maksimal.
Sabut kelapa yang selama ini banyak menjadi limbah dapat diolah menjadi coco fiber dengan nilai jual antara Rp10.000 hingga Rp20.000 per kilogram, serta coco peat senilai Rp7.000 hingga Rp15.000 per kilogram.
Jika seluruh produksi sabut diolah, potensi nilai ekonominya diperkirakan mencapai Rp60 miliar hingga Rp120 miliar per bulan untuk coco fiber dan Rp7 miliar hingga Rp10 miliar per bulan untuk coco peat.
Sementara itu, tempurung kelapa dapat menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp108 miliar hingga Rp215 miliar per tahun apabila diolah menjadi briket arang.
Produk turunan lainnya juga memiliki nilai yang tidak kalah besar. Batok kelapa yang diproses menjadi asap cair diperkirakan mampu menghasilkan Rp150 miliar hingga Rp478 miliar per tahun, sedangkan air kelapa yang selama ini banyak terbuang berpotensi menjadi minuman isotonik dengan nilai ekonomi mencapai Rp19 miliar hingga Rp78 miliar per tahun.
Besarnya angka tersebut menunjukkan bahwa selama bertahun-tahun Parigi Moutong masih mengalami kebocoran nilai tambah, karena komoditas kelapa lebih banyak dijual dalam bentuk mentah dibanding diolah menjadi produk bernilai tinggi.
“Melalui SI GEMPITA, Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong berharap transformasi industri kelapa dapat dimulai dari data yang akurat, sehingga kebijakan investasi, pembangunan kawasan industri, hingga pemberdayaan petani dapat berjalan lebih terarah dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi Masyarakat,” ujarnya. (bar/*)






