back to top
Selasa, 12 Mei 2026
BerandaPALUBertahan di Era Scroll

Bertahan di Era Scroll

OLEH: Indar Ismail Jamaluddin*

KABAR68, – Minggu lalu saya dihubungi Barnabas Loinang, Pemimpin Redaksi Radar Sulteng. Kami cukup akrab, bukan hanya karena sama-sama berada di dunia jurnalistik, tetapi juga pernah bertemu dalam ruang kaderisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Ia menyampaikan kabar baik. Kini Radar Sulteng hadir dengan wajah baru mengandalkan Broadsheet American Style. Sebuah langkah adaptasi dari mesin cetak offset menuju format print yang lebih modern.

Perubahan ini dapat dipahami. Dunia media cetak sedang menghadapi perubahan besar. Pasar koran tidak lagi seperti dulu yang mampu menyerap ribuan eksemplar setiap hari. Kini, Surat kabar bergerak menuju pasar yang lebih spesifik dan segmentatif. Di saat bersamaan, media sosial terus menghadirkan persaingan yang tidak ringan.

Meski harga produksinya lebih tinggi, Barnabas meyakinkan bahwa tampilan baru ini akan lebih eksklusif, nyaman dibaca, dan lebih handleable. Bahkan kualitas bahan kertasnya pun dibuat lebih premium. Saya tidak terlalu jauh mengomentari keputusan tersebut. Saya percaya Pak Kamil Badrun selaku pimpinan umum, bersama tim Radar Sulteng, telah menghitung berbagai aspek bisnis dan teknisnya secara matang. Namun, ada satu pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting: apakah perubahan tampilan ini juga diikuti dengan kemampuan beradaptasi terhadap dinamika publik dalam memperoleh informasi hari ini?

Sebagai orang yang bergelut di dunia jurnalistik dan lingkungan akademik, saya meyakini bahwa wartawan memiliki posisi strategis dalam membentuk opini publik. Bahkan dalam banyak keadaan, media dapat memengaruhi arah kebijakan pemerintah. Dalam studi kebijakan publik, posisi pers sering disejajarkan dengan partai politik, kalangan intelektual, hingga kelompok kepentingan (Kusumanegara, 2010).

Peran itu terlihat jelas ketika dunia menghadapi pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu. Cara media memberitakan situasi ikut menentukan bagaimana masyarakat memahami ancaman, membangun kepanikan, atau justru menumbuhkan optimisme. Sikap dan keberpihakan media pada akhirnya membentuk opini publik (Jamaluddin & Phradiansah, 2020).

Hari ini, tantangan jurnalistik semakin kompleks. Bukan hanya media cetak yang bersaing dengan media siber, tetapi juga dengan jurnalisme warga di media sosial seperti Facebook, WhatsApp, Instagram, dan YouTube. Kecepatan informasi membuat publik sering kali lebih dahulu mengetahui peristiwa dari media sosial dibandingkan dengan media arus utama.

Namun, di tengah arus deras informasi itu, media profesional tetap memiliki kekuatan yang sulit digantikan: disiplin verifikasi, etika jurnalistik, dan kemampuan menjaga akurasi informasi (Nasrullah, 2016). Tidak semua orang yang memegang telepon genggam otomatis menjadi jurnalis. Sebab jurnalistik bukan hanya soal cepat mengabarkan, melainkan juga tanggung jawab terhadap kebenaran informasi.

Karena itu, apa pun bentuk medianya—koran, televisi, radio, atau media online—hal yang tidak boleh berubah adalah integritas wartawannya. Pemahaman terhadap Undang-Undang Pers, kode etik jurnalistik, verifikasi informasi, serta kompetensi profesi harus tetap menjadi fondasi utama.

Tidak banyak perusahaan pers yang masih bertahan menerbitkan koran di tengah dominasi era scroll pada layar smartphone. Banyak media besar akhirnya memilih pindah ke platform digital. Karena itu, keberanian Radar Sulteng mempertahankan media cetak patut diapresiasi sebagai ikhtiar menjaga tradisi literasi publik.

Pada akhirnya, pergantian wajah sebuah koran bukan sekadar perubahan desain atau ukuran kertas. Yang paling penting adalah apakah semangat jurnalismenya tetap hidup: kritis, independen, berpihak pada kepentingan publik, dan tetap setia menjadi “Medianya Orang Cerdas.”(*)

*Dosen Administrasi Publik USN Kolaka/Tutor Tuton Universitas Terbuka

BERITA TERKAIT >

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI >

Ketika Negara Hadir di Ujung Peta

0
OLEH: Rezza Fahlevi (Pemerhati pendidikan dan kebijakan publik) KABAR68, - Ada sebuah adagium lama yang kerap terdengar di kalangan aktivis pendidikan: "Kualitas pendidikan suatu bangsa...

TERPOPULER >