OLEH: Muh. As’ad (UIN Datokarama Palu)
KABAR68, – Di era digital saat ini, siapa pun bisa terlihat seperti desainer. Dengan hadirnya berbagai tools berbasis AI, membuat poster, logo, atau konten visual bisa dilakukan hanya dalam hitungan menit. Cukup ketik prompt, generate, dan desain pun langsung jadi. Namun di balik kemudahan itu, muncul satu masalah serius. Semakin banyak orang yang menganggap desain grafis adalah pekerjaan yang mudah sehingga tidak layak dihargai tinggi, bahkan sering dianggap gratis.
Desain Grafis adalah proses berpikir. Seorang desainer tidak hanya mengatur warna dan font, tetapi juga memecahkan masalah komunikasi. Setiap desain punya tujuan, menyampaikan pesan, membangun identitas, memengaruhi emosi audiens, bahkan mendorong tindakan. Itu berarti ada riset, eksplorasi ide, revisi, hingga keputusan-keputusan visual yang tidak terlihat oleh klien. AI mungkin bisa menghasilkan visual, tapi ia tidak memahami konteks, budaya, target audiens, atau nilai brand secara mendalam seperti manusia. AI juga tidak memiliki perasaan sehingga desain yang dihasilkan tidak memiliki emosi dan nilai seni. Kebanyakan orang hanya menilai sebuah desain dari hasil akhirnya tanpa melihat prosesnya.
Masalahnya, kemunculan AI justru memperparah persepsi keliru. Banyak klien mulai berkata, “Kan bisa pakai AI, kenapa harus mahal?” Pertanyaan ini terdengar sederhana, tapi sebenarnya mereduksi profesi desainer menjadi sekadar operator alat. Jika logika ini diterima, maka semua profesi kreatif bisa dianggap murah, bahkan tidak perlu dibayar karena alatnya sudah ada. Padahal, alat hanyalah perpanjangan tangan. Nilai utama tetap ada pada siapa yang menggunakannya.
Lebih ironis lagi, banyak desainer pemula ikut terjebak dalam lingkaran ini. Demi mendapatkan klien, mereka rela memasang harga sangat rendah, bahkan bekerja gratis dengan alasan untuk menambah portofolio. Akibatnya, standar industri ikut turun. Klien terbiasa membayar murah atau seikhlasnya, dan pada akhirnya profesi ini kehilangan nilai tawarnya. Ini bukan hanya merugikan individu, tapi juga merusak ekosistem kreatif secara keseluruhan.
Kita perlu meluruskan cara pandang ini. Desain grafis bukanlah sesuatu yang instan, melainkan hasil dari kerja keras, pengalaman, keahlian dan pemikiran strategis. Sama seperti profesi lain, ia layak dihargai secara profesional. AI seharusnya dipandang sebagai alat bantu untuk meningkatkan efisiensi, bukan alasan untuk menurunkan nilai kerja manusia.
Jika hari ini desain dianggap murah atau gratis, itu bukan karena pekerjaannya tidak bernilai, melainkan karena kita belum cukup tegas dalam menghargainya. Maka, penting bagi desainer untuk berani menetapkan harga yang pantas, sekaligus mengedukasi klien tentang proses di balik sebuah karya.(*)






