PALU, — Keberhasilan Direktorat Reserse Narkoba Polda Sulawesi Tengah menggagalkan peredaran 16 kilogram sabu di Bandara Mutiara SIS Al-Jufri, Minggu (24/4) sekitar pukul 06.00 Wita, menuai apresiasi sekaligus tanda tanya besar.
Ketua Umum Mahasiswa Anti Narkoba dan Peduli AIDS (MANPA), Muh. Taufik, menyebut pengungkapan kasus ini sebagai langkah tegas aparat dalam menekan peredaran narkotika di Sulawesi Tengah. Dalam operasi tersebut, polisi mengamankan enam orang terduga kurir yang merupakan warga lokal, serta menyita 16 paket sabu yang dibungkus rapi dalam bentuk persegi.
“Keberhasilan Ditresnarkoba Polda Sulteng patut diapresiasi. Ini bukti nyata bahwa kepolisian masih aktif dan progresif dalam menangani peredaran narkoba, apalagi Sulawesi Tengah saat ini masuk tiga besar secara nasional,” ujar Taufik.

Namun di balik keberhasilan itu, muncul pertanyaan krusial: bagaimana barang haram dalam jumlah besar tersebut bisa lolos dari sistem pengamanan bandara?
Taufik menyoroti kemungkinan adanya celah serius dalam pengawasan, bahkan tidak menutup kemungkinan keterlibatan oknum internal. Ia mempertanyakan bagaimana 16 kilogram sabu yang hanya dibawa menggunakan ransel dapat melewati pemeriksaan ketat seperti pemindai sinar-X (X-Ray Scanner), yang seharusnya mampu mendeteksi kepadatan benda mencurigakan dalam bagasi.
“Ini menjadi kekhawatiran serius. Tidak masuk akal barang sebanyak itu bisa lolos begitu saja tanpa terdeteksi. Artinya ada potensi kelemahan sistem, atau bahkan dugaan keterlibatan oknum yang harus diusut,” tegasnya.
Menurutnya, kejadian ini membuka potensi ancaman berulang jika sistem keamanan tidak segera dievaluasi secara menyeluruh. Jalur udara yang seharusnya menjadi pintu masuk dengan pengawasan ketat justru bisa dimanfaatkan oleh jaringan narkotika jika celah tersebut tidak ditutup.
Taufik menegaskan, pengungkapan kasus ini belum menjadi akhir. Ia mendorong aparat kepolisian untuk mengembangkan penyelidikan guna mengungkap jaringan besar di balik penyelundupan tersebut.
“Kasus ini belum selesai. Harus ada investigasi lanjutan untuk membongkar aktor utama di baliknya. Selain itu, kepolisian dan pemerintah perlu berkoordinasi dengan pihak bandara untuk memperketat sistem keamanan agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkasnya.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi pengelola bandara dan otoritas terkait untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur keamanan, guna mencegah jalur udara dijadikan pintu empuk peredaran narkotika di Sulawesi Tengah. (zar)






