back to top
Rabu, 22 April 2026
BerandaPALUPALU BANGKIT, TAPI SIAPKAH?

PALU BANGKIT, TAPI SIAPKAH?

OLEH: Nur Fatiha (Mahasiswa UIN Datokarama)

KABAR68, – Setelah lebih dari tujuh tahun peristiwa gempa bumi, tsunami dan likuifaksi melanda Kota Palu, kini Kota ini perlahan bangkit dari keterpurukan. Dengan tagline “Palu bangkit”, perlahan Kota Palu mulai menunjukkan perubahan.  Infrastruktur yang rusak akibat gempa mulai dibangun kembali. Tidak sedikit infrastruktur dibangun dengan teknologi anti-gempa. Hal ini dapat dilihat dari Masjid Baitul Khairaat, Jembatan IV Palu, dan Kampus UIN Datokarama Palu yang kini berdiri megah.

Namun, ada satu hal yang perlahan hilang dari ingatan masyarakat, bahwa di balik megahnya Kota Palu saat ini terdapat sesar Palu-Koro yang merupakan salah satu patahan darat tercepat di Indonesia yang kapan saja dapat menyebabkan gempa bumi. Saat ini, sesar Palu-Koro tidak lagi menjadi momok menakutkan. Padahal menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), patahan sesar Palu-Koro di Sulawesi Tengah bergeser atau bergerak 35-45 mm per tahun. Tapi, hal ini seakan bukan lagi hal yang perlu dikhawatirkan, bahkan zona merah kini mulai ditempati lagi, seolah-olah kita lupa pada luka lama yang pernah dialami di lokasi yang sama.

 

MITIGASI YANG SULIT DIJANGKAU

Hidup berdampingan dengan sesar Palu-Koro, seharusnya dihadapi dengan kesiapsiagaan. Edukasi kebencanaan seharusnya selalu dibicarakan. Tapi kenyataannya, hal ini redup terlebih pada kalangan menengah ke bawah.

Pemerintah sebenarnya bukan tanpa upaya. Program edukasi dan sosialisasi kebencanaan terus dilakukan, bahkan aktif digelar di ruang-ruang formal seperti hotel. Namun, pendekatan ini justru menimbulkan pertanyaan: apakah sosialisasi tersebut benar-benar menjangkau masyarakat yang paling rentan?

Realita di lapangan menunjukan bahwa tidak semua lapisan masyarakat menjadikan mitigasi sebagai prioritas. Bagi sebagian masyarakat khususnya kelompok ekonomi menengah kebawah kebutuhan untuk bertahan hidup sehari-hari jauh lebih mendesak dibanding memikirkan potensi bencana masa depan.

 

PALU BANGKIT ATAU SEKADAR SLOGAN

Padahal gempa bisa terjadi kapan saja, bisa kurang atau lebih parah dari beberapa tahun silam. Dan jika hal ini dibiarkan tanpa persiapan, kita akan kembali jatuh di lubang yang sama. Kota Palu mungkin telah bangkit, namun kebangkitan tersebut baru terlihat secara struktural. Tapi kebangkitan sejati adalah ketika setiap warga memiliki pengetahuan dan kesiapan dalam menghadapi risiko bencana.

Di sinilah slogan “Palu Bangkit” diuji. Mitigasi bencana di Kota Palu masih cenderung bersifat formal dan terbatas pada kalangan tertentu, sehingga belum sepenuhnya menyentuh masyarakat luas. Padahal jika kita berkaca pada beberapa tahun silam kebanyakan korban justru berasal dari masyarakat kalangan bawah yang tinggal di pemukiman padat. Bangkit bukan soal berapa banyak kegiatan digelar, tapi soal seberapa siap masyarakat ketika bencana kembali melanda.

 

MITIGASI YANG SEHARUSNYA

Maka pemerintah harus mulai keluar dari aula atau hotel mewah dan masuk ke lorong-lorong rumah warga, duduk bersama warga awam hingga ngobrol dengan ibu-ibu yang menjaga anak di rumah. Karena mereka adalah garda pertama saat bumi berguncang. Kota Palu tidak butuh lagi spanduk bangkit, Palu butuh satu “ibu siaga” yang paham jalur evakuasi di setiap lorong sempit.

Apalagi yang tinggal di zona merah. Mereka hidup di atas tanah yang sudah sekali menelan warga, bukan bentuk kesengajaan hal ini justru bentuk keterpaksaan. Pemerintah memang sudah memasang plang peringatan, tapi kondisi ekonomi memaksa hal ini tetap dilakukan.

Huntap yang dibangun ternyata jauh dari lokasi pencaharian, membuat warga kembali ke lokasi rawan bencana. Maka pemerintah perlu hadir kembali, bukan hanya membawa inovasi huntap, tapi membuat nelayan tetap kembali mendapatkan penghasilan dengan biaya transportasi yang rendah. Pemerintah juga seharusnya lebih tegas dalam mengawasi pembangunan di wilayah zona merah, petugas harus hadir di lapangan untuk menghentikan pembangunan baru di wilayah zona merah.

Kota Palu tidak kekurangan slogan, tapi masih kekurangan kesiapan. Selama itu belum berubah, kebangkitan hanya akan terlihat pada bangunan, bukan pada manusianya. Ketika kesiapsiagaan benar-benar hadir, ibu-ibu tidak lagi harus memeluk anaknya di atas tanah yang pernah menelan korban dan para nelayan tetap dapat menghidupi keluarganya tanpa dibebani jarak serta biaya untuk kembali ke laut yang menjadi sumber penghidupan.(*)

BERITA TERKAIT >

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI >

Sawah Jadi Limbah Slag PT GNI, Pemda Morut Diminta Tegas

0
Morut Terancam Krisis Lahan Pangan PALU, – Komisi III DPRD Sulawesi Tengah mendesak Pemerintah Kabupaten Morowali Utara segera bertindak tegas terkait dugaan alih fungsi lahan...

TERPOPULER >