back to top
Senin, 2 Maret 2026
BerandaPALU“Cuaca Buruk: Waspada Banjir Berulang di kabupaten Tolitoli dan...

“Cuaca Buruk: Waspada Banjir Berulang di kabupaten Tolitoli dan Ancaman Penyakit Mengintai”

OLEH : ASRINI M.S ,FADLIYA

(*) Penulis : Magister Kesehatan Masyarakat. Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palu Angkatan 2025 .

KABAR68, – Cuaca ekstrem kembali melanda berbagai wilayah Indonesia. Hujan dengan intensitas tinggi yang turun berjam-jam tanpa henti menyebabkan sungai meluap, drainase kota tak mampu menampung debit air, dan permukiman warga kembali terendam. Fenomena ini bukan lagi kejadian musiman semata, melainkan pola berulang yang seharusnya menjadi peringatan serius bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

Kabupaten Tolitoli di Provinsi Sulawesi Tengah kembali dihadapkan pada ancaman banjir akibat cuaca buruk dan curah hujan tinggi yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Wilayah yang dilalui sejumlah sungai dan berada di dataran rendah ini memang memiliki kerentanan tersendiri ketika hujan turun dengan intensitas lebat dan durasi panjang. Setiap musim hujan tiba, masyarakat kembali dihantui kekhawatiran yang sama: rumah terendam, aktivitas ekonomi terganggu, dan risiko kesehatan meningkat.

Banjir berulang di Tolitoli bukan semata persoalan alam. Faktor lingkungan turut berperan besar, mulai dari berkurangnya kawasan resapan air, penebangan hutan di daerah hulu, hingga drainase yang belum optimal. Endapan lumpur dan sampah yang menyumbat saluran air memperparah kondisi, sehingga air hujan yang seharusnya mengalir lancar justru meluap ke permukiman warga. Jika situasi ini terus dibiarkan, maka banjir akan menjadi siklus tahunan yang semakin sulit dikendalikan.

Pencegahan banjir harus dimulai dari hulu hingga hilir. Pemerintah daerah perlu memperketat pengawasan tata ruang dan melindungi kawasan hutan sebagai daerah tangkapan air. Reboisasi di wilayah hulu sungai menjadi langkah strategis untuk mengurangi limpasan air saat hujan deras. Selain itu, normalisasi sungai dan perbaikan sistem drainase perkotaan harus dilakukan secara berkala agar kapasitas aliran air tetap terjaga.

Di tingkat masyarakat, upaya sederhana namun konsisten sangat menentukan. Tidak membuang sampah sembarangan, membersihkan saluran air secara rutin, serta membuat sumur resapan atau lubang biopori di lingkungan rumah dapat membantu mengurangi genangan. Budaya gotong royong yang menjadi kearifan lokal masyarakat Tolitoli perlu terus dihidupkan sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan.

Namun persoalan tidak berhenti saat air mulai surut. Ancaman penyakit justru sering muncul setelah banjir berlalu. Air yang tercemar membawa berbagai bakteri dan virus penyebab penyakit seperti diare, leptospirosis, penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan, dan demam berdarah. Genangan air yang tersisa menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, sementara keterbatasan air bersih memperbesar risiko penularan penyakit berbasis lingkungan. Data menunjukkan bahwa sejak Januari hingga Desember 2025 terjadi peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Tolitoli dengan total 92 kasus yang tercatat. Angka ini menjadi peringatan serius bahwa perubahan lingkungan akibat musim hujan dan banjir memiliki dampak langsung terhadap kesehatan masyarakat.

Pencegahan penyakit saat banjir harus menjadi prioritas. Masyarakat perlu memastikan penggunaan air bersih untuk minum dan memasak, merebus air sebelum dikonsumsi, serta menjaga kebersihan tangan dengan sabun. Makanan harus disimpan dalam wadah tertutup agar tidak terkontaminasi. Selain itu, membersihkan rumah dari lumpur dengan menggunakan sarung tangan dan alas kaki dapat mencegah infeksi kulit dan leptospirosis.

Upaya pemberantasan sarang nyamuk juga tidak boleh diabaikan. Menguras, menutup, dan mengubur barang bekas yang dapat menampung air perlu dilakukan segera setelah banjir surut. Pemerintah daerah bersama fasilitas kesehatan harus aktif melakukan penyuluhan, pemeriksaan kesehatan, serta menyediakan layanan pengobatan bagi warga terdampak, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil.

Cuaca buruk mungkin tidak dapat kita kendalikan, tetapi dampaknya dapat kita minimalkan melalui kesadaran kolektif dan tindakan nyata. Kabupaten Tolitoli membutuhkan komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat pencegahan banjir serta kesiapsiagaan kesehatan. Jika tidak, banjir berulang dan ancaman penyakit akan terus menjadi bayang-bayang yang mengganggu ketenteraman hidup warga setiap musim hujan tiba.(*)

BERITA TERKAIT >

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI >

Kantor Baru Kejari Sigi Mulai di Tempati

0
PALU, - Kantor Kejaksaan Negeri Sigi, yang beralamat di Huntap Desa Pombewe, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, mulai di tempati. Namun baru Tindak Pidana Khusus...

TERPOPULER >