back to top
Rabu, 6 Mei 2026
BerandaPALUNasib Sekolah Kejuruan, Guru Seadanya Fasilitas Apa Adanya

Nasib Sekolah Kejuruan, Guru Seadanya Fasilitas Apa Adanya

PALU, – Anggota Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Tengah (Sulteng), Aristan, melakukan kunjungan kerja ke dua sekolah di Kabupaten Sigi dan Donggala. Dua sekolah yang dikunjungi adalah SMA Negeri 1 Sigi dan SMK Negeri 1 Sindue Tobata. Kunjungan tersebut guna untuk melihat langsung bagaimana kondisi pelaksanaan pendidikan serta ketersediaan sarana prasarana dalam realisasi bantuan pendidikan dari pemerintah provinsi Sulteng.

Di SMA Negeri 1 Biromaru, Aristan menemukan ada tujuh bangunan sekolah yang hingga kini belum diperbaiki sejak gempa. Akibatnya, satu kelas terpaksa belajar di ruang sementara, bahkan sesekali di taman. Menurut Aristan, kondisi tersebut jelas tidak kondusif bagi proses belajar mengajar dan perlu segera mendapat perhatian pemerintah provinsi.

Kondisi yang tidak jauh berbeda ia temukan di SMK Negeri 1 Sindue Tobata, Donggala. Sekolah yang telah melakukan 13 kali penamatan angkatan tersebut sebenarnya memiliki rekam jejak yang cukup baik. Aristan menyebutkan bahwasanya telah banyak alumninya yang terserap di industri besar, termasuk di kawasan industri IMIP dan sejumlah perusahaan di Kalimantan. Namun dari tahun ke tahun, jumlah peminat sekolah Kejuruan tersebut terus menurun sehingga ia menilai hal itu langsung berkaitan dengan kondisi fisik sekolah yang memprihatinkan.

Sementara itu dari sisi tenaga pengajar, salah satu sekolah yang ia kunjungi hanya memiliki 15 guru yang terdiri dari dua Aparatur Sipil Negara (ASN) dan 13 PPPK, ditambah dengan satu orang PLT kepala sekolah. Sedangkan jurusan yang tersedia yakni Teknik Jaringan Komputer (TKJ) dan Agro Industri Perkebunan. Namun guru spesialis untuk kedua jurusan itu hanya satu atau dua orang. Akibatnya, guru mata pelajaran lain, termasuk guru agama, ikut mengajar praktik di kedua jurusan tersebut.

“Ini butuh distribusi guru yang lebih baik. Karena ini sekolah vokasi, sekolah vokasi perlu menjadi prioritas khusus oleh pemerintah provinsi,” ungkap Aristan saat ditemui usai rapat komisi IV di gedung DPRD Sulteng, Selasa (5/5/2026).

Persoalan serupa juga terjadi pada sarana praktik. Di jurusan TKJ yang hanya tersedia enam unit komputer dengan spesifikasi lama untuk 84 siswa. Sementara di jurusan Agro Industri Perkebunan, hanya ada dua hand tractor dan satu di antaranya dalam kondisi rusak. Padahal sebagai sekolah kejuruan, ketersediaan alat pertanian modern yang memadai sangat menentukan kualitas lulusan.

Aristan juga mengakui sudah ada sejumlah bantuan yang berjalan di sekolah ini. Salah satunya program Berani Cerdas untuk pembiayaan Praktek kerja lapangan (PKL) siswa, yang dinilai cukup meringankan beban orang tua, dan terdapat juga bantuan uang kuliah tunggal untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, namun program itu nyaris tidak diminati siswa lulus sekolah kejuruan (SMK).

Menurut Aristan, alasan para lulusan SMK umumnya enggan melanjutkan kuliah bukan semata karena biaya UKT, melainkan karena mereka juga harus menanggung biaya hidup, akomodasi, dan kebutuhan sehari-hari terlebih lagi jika harus pindah ke Palu. Alhasil, sebagian besar memilih langsung masuk dunia kerja setelah lulus. (Zar)

BERITA TERKAIT >

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI >

Empat Periode Menjabat, Ketua Senat Untad Dituding Langgar Statuta

0
PALU,– Rapat Senat Universitas Tadulako (Untad) pada Selasa, 5 Mei 2026, berlangsung tegang setelah sejumlah anggota senat langsung mengajukan interupsi di awal sidang. Mereka...

TERPOPULER >