Palu, – Salah satu pakar geologi Sulawesi Tengah, Abdullah, menilai rangkaian aktivitas gempa bumi yang terjadi di wilayah Palu, Sigi, dan Poso dalam beberapa waktu terakhir merupakan bagian dari dinamika sesar aktif yang memang masih terus bergerak.
Menurut Abdullah, peristiwa gempa dengan intensitas MMI IV-VI yang tercatat pada 16 Juni 2026 di wilayah Palu, Sigi, dan Poso kembali menunjukkan bahwa frekuensi kejadian yang relatif berulang dalam beberapa tahun terakhir.
“Fenomena ini gempa biasa dalam konteks tektonik aktif. Ini adalah gempa susulan dan aktivitas sesar yang memang terus terjadi. Yang penting sekarang adalah update data dan kewaspadaan tetap dijaga,” kata Abdullah.
Ia menegaskan, di wilayah Sulawesi Tengah terdapat lebih dari 40 sesar aktif, yang saling terhubung dalam sistem tektonik kompleks, termasuk turunan dari Sesar Palu-Koro.
“Gempa susulan yang banyak itu biasa, tapi lebih 1000 kali dalam kurun waktu empat hari itu aneh,” jelasnya.

BMKG Palu mencatat hingga 20 Juni 2026 pukul 05.00 WITA, gempabumi susulan hingga saat ini berjumlah 1038 kejadian dan gempabumi dirasakan 35 kejadian.
Abdullah juga mengaitkan sejumlah kejadian gempa signifikan sebelumnya sebagai bagian dari pola aktivitas sesar tersebut. Di antaranya gempa di wilayah Pamona, Kabupaten Poso pada Juli 2025 yang dipicu aktivitas sesar aktif dan menyebabkan kerusakan rumah warga serta memaksa ribuan penduduk mengungsi.
Selain itu, gempa di Desa Masani pada 17 Agustus 2025 juga disebut berkaitan dengan aktivitas Sesar Tokoraru , dengan kekuatan magnitudo 5,8 yang berpusat di kedalaman dangkal sekitar 8 kilometer. Peristiwa tersebut menyebabkan korban jiwa, luka-luka, serta memicu tsunami minor dengan ketinggian sekitar 4,8 cm.
Abdullah menambahkan, sejarah kegempaan di Sulawesi Tengah juga menunjukkan pola serupa, seperti gempa Sesar Graben Palolo pada 29 Mei 2017 berkekuatan magnitudo 6,6 yang memicu rangkaian gempa susulan panjang hingga Juli 2017. Sesar ini merupakan bagian dari sistem Sesar Palu-Koro yang membentang dari Sigi hingga Poso.
Ia juga menyinggung peristiwa lebih lama di Sausu, 19 Mei 1995, yang merusak sedikitnya 119 rumah dan bangunan, meski saat itu tidak menimbulkan korban jiwa.
Dalam catatannya, Abdullah menekankan bahwa seluruh kejadian tersebut memperkuat karakter Sulawesi Tengah sebagai kawasan aktif secara tektonik yang membutuhkan kesiapsiagaan berkelanjutan.
“Bagaimanapun juga, kita harus tetap waspada. Ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi sebagai pengingat bahwa kita hidup di wilayah rawan gempa,” ujarnya. (bar)






