Kabar68 Palu- Lapangan Vatulemo Kota Palu pada Jumat malam (29/8/2025) menjadi saksi bisu gelora tuntutan keadilan. Ribuan masyarakat dari berbagai elemen tumpah ruah dalam Aksi 1000 Lilin, menyalakan harapan dan protes atas sikap represif aparat kepolisian terhadap korban, Affan Kurniawan
Suasana haru bercampur amarah. Lilin-lilin kecil yang menyala dalam genggaman massa seolah menjadi simbol perlawanan terhadap kegelapan. Aksi ini tidak hanya sekadar menyuarakan tuntutan, tetapi juga menjadi momen solidaritas yang kuat dari berbagai lapisan masyarakat.
Suara Rakyat Bersatu Menuntut Keadilan
Gelombang orasi silih berganti diantara riuhnya malam. Dimulai dari suara lantang mahasiswa yang menuntut reformasi di tubuh kepolisian, disusul oleh masyarakat sipil yang mengecam keras tindakan represif, hingga para kawan buruh dan solidaritas ojek online se-Kota Palu yang turut menyampaikan aspirasi mereka.
“Kami datang ke sini bukan untuk mencari kerusuhan, tetapi untuk menuntut keadilan. Kasus Affan Kurniawan adalah cerminan dari lemahnya perlindungan hukum bagi rakyat kecil,” ujar salah satu orator yang disambut tepuk tangan riuh massa.
Affan Kurniawan, yang menjadi korban meninggal dunia setelah terlindas kendaraan taktis Brimob, menjadi alasan utama di balik gelaran aksi ini. Nama Affan disebut berulang kali, menjadi pengingat bahwa ketidakadilan masih nyata di tengah masyarakat.
Selain orasi, aksi ini juga diisi dengan doa bersama. Momen ini menjadi puncak dari kebersamaan, di mana ribuan orang menundukkan kepala, memanjatkan doa untuk Affan Kurniawan agar mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, sekaligus memohon agar kasus ini diusut tuntas tanpa pandang bulu.

Rencana Aksi Lanjutan
Gelora perjuangan belum usai. Para koordinator aksi telah mengumumkan rencana tindak lanjut. Aksi lanjutan akan digelar pada hari Senin, 1 September 2025 di Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Tengah. Aksi ini diharapkan dapat mendorong para wakil rakyat untuk segera mengambil sikap dan memastikan keadilan benar-benar ditegakkan.
Aksi 1000 Lilin di Palu bukan hanya sebuah unjuk rasa. Ini adalah representasi dari kegelisahan publik yang muak dengan ketidakadilan. Ini adalah sebuah pengingat bahwa ketika hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah, rakyat akan bangkit dan menuntut keadilan dengan caranya sendiri. (Lis)