back to top
Rabu, 8 April 2026
BerandaPALUBBM Dibatasi, Praktik “Solar Siluman” Masih Beroperasi

BBM Dibatasi, Praktik “Solar Siluman” Masih Beroperasi

PALU, – Meski pemerintah telah membatasi pembelian BBM jenis solar subsidi maksimal 200 liter per hari per kendaraan sejak rapat koordinasi pada 2 April 2026, praktik penyalahgunaan oleh oknum yang dikenal sebagai “siluman solar” dilaporkan masih terus berlangsung.

Seorang narasumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa aktivitas tersebut tetap berjalan seperti biasa, bahkan dengan jumlah pembelian yang jauh melebihi batas yang telah ditetapkan.

“Siluman tetap jalan (beroperasi, red). Biasa mereka isi solar sampai sejutaan bahkan,” ujarnya.

Ia menilai praktik tersebut seolah tidak tersentuh oleh aparat penegak hukum, meskipun kondisi BBM sedang langka. Menurutnya, penertiban memang sempat dilakukan, namun tidak berlangsung tegas sehingga para pelaku kembali beroperasi.

“Setahu saya mereka itu tetap jalan sampai sekarang. Sempat ada penertiban kemarin, tapi sekarang main lagi. Penertibannya pun tidak tegas, mungkin ini yang bikin siluman masih mau bermain,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia memaparkan perhitungan sederhana terkait besarnya potensi penyalahgunaan solar subsidi. Jika dalam satu SPBU terdapat sekitar 10 truk yang melakukan praktik tersebut, dengan nilai transaksi mencapai Rp3 juta per pengisian–bahkan lebih–maka total pembelian bisa mencapai Rp30 juta dalam sehari.

Dengan harga solar subsidi sekitar Rp6.800 per liter, jumlah tersebut setara dengan sekitar 400 liter atau bahkan lebih yang beredar di luar ketentuan.

“Siluman ini sudah pasti melanggar peraturan. Setahu saya, penjualan BBM subsidi solar di SPBU sudah dibatasi 200 liter per hari, ini bisa sampai 400 liter lebih,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa solar tersebut kemudian dijual ke Morowali sebagai supply BBM berbagai perusahaan baik industri nikel maupun perusahaan perkebunan sawit.

“Itu solar biasanya dijual ke Morowali untuk perusahaan nikel atau sawit. Karena kan perusahaan tidak bisa beli BBM subsidi, sementara harga yanh ditawarkan para siluman lebih rendah. Pasti pemain di perusahaan bakal ambil solarnya mereka,” jelasnya.

Narasumber ini menjelaskan, harga yang ditawarkan oleh siluman berada pada angka Rp10 ribu hingga Rp11 ribu per liternya. Sementara Dexlite di angka Rp14 ribu.

Ia pun mendesak pemerintah, baik aparat penegak hukum maupun instansi terkait, untuk segera mengambil langkah tegas melalui pengawasan dan penindakan di lapangan.

“Kalau tidak ditindaki, siluman-siluman ini akan memperburuk keadaan dan merugikan truk konvensional. Kalau kami kehabisan solar, truk tidak bisa jalan. Pemerintah mau isi dapur kami?” pungkasnya. (NAS)

BERITA TERKAIT >

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI >

PT MPS “Abaikan” Perlindungan Tenaga Kerja

0
Sistem Masa Percobaan Tenaga Kerja Tak Pantas Diberlakukan BANGGAI - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kab. Banggai, telah melayangkan surat panggilan kepada perusahaan tambang...

TERPOPULER >