back to top
Senin, 6 April 2026
BerandaDAERAHWarga Bantah PT BSU Dijadikan “Kambing Hitam” Soal Banjir

Warga Bantah PT BSU Dijadikan “Kambing Hitam” Soal Banjir

Penyebab Banjir Murni Faktor Alam, Lokasi Perusahaan Terisolasi Dari Aliran Sungai dan Perkampungan

BANGGAI, – Tudingan terhadap perusahaan PT. Balantak Sirtu Utama (BSU) perusahaan galian C, di Desa Batu Mandi Kecamatan Balantak Utara, Kabupaten Banggai, sebagai penyebab banjir yang terjadi sepekan di wilayah tersebut sangat tidak rasional, karena tidak ada material yang bersumber dari penambangan galian C yang membawa sedimen langsung di lokasi banjir di perkampungan.

Tudingan seringkali muncul akibat adanya ketakutan masyarakat dampak dari setiap perusahaan galian C secara keseluruhan atau akibat adanya perusahaan galian C lain yang ilegal di wilayah. Namun, keberadaan PT BSU di Desa Batu Mandi dan PT. Teku Sirtu Utama (TSU) di Desa Teku di wilayah Kecamatan Balantak Utara dalam aktivitas pengelolaan galian C memiliki dan mengantongi izin lengkap, berupa AMDAL, menempatkan sedimen pond (kolam pengendap) agar lumpur tidak terbawa aliran air, dan mengelola transportasi dengan baik, sehingga risiko penyebab banjir sangat minim.

Informasi yang dihimpun Radar Sulteng di lokasi pasca banjir Desa Batu Mandi dan Pangkalasean, bahwa diduga kuat adanya sentimen sosial yang sengaja diciptakan dimana keberadaan perusahaan PT BSU seringkali dijadikan “kambing hitam” atau target oknum-oknum tertentu karena terlihat secara kasat mata dituding terkesan “perusak” alam tanpa didukung data dan bukti yang akurat dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tudingan sosial sering terjadi karena persepsi masyarakat terhadap resiko setiap adanya penambangan.

Fakta dilapangan, posisi aktivitas PT. BSU sangat berlawanan arah dimana aktivitas PT. BSU berada dibagian Timur dekat Laut dan dibatasi oleh pegunungan dengan jarak sekitar 4 KM dari pemukiman penduduk Desa Batu Mandi, apalagi Desa Pangkalasean yang berjarak sekitar  8 KM, yang secara hidrologis tidak ada sedimen material galian perusahaan yang berdampak langsung dengan peristiwa banjir yang menimpa kedua wilayah tersebut, dan secara geografis posisi tersebut tidak memiliki dampak langsung terhadap banjir di pemukiman warga.

Kondisi banjir yang terjadi disebabkan adanya kombinasi curah hujan yang ekstrim, sedimentasi (pendangkalan sungai), berkurangnya resapan air di hulu, dan terdapatnya sampah kayu di sungai, sehingga menyumbat aliran sungai yang menyebabkan meluapnya sungai karena volume air telah melebihi kapasitas.

Ketua BPD, Aparat Desa, Tokoh Agama, dan Tokoh Masyarakat, bahkan Pemerintah Kecamatan Balantak Utara, mengatakan pada dasarnya tidak ada kaitan keberadaan PT BSU dengan peristiwa meluapnya banjir di Desa Batu Mandi dan Pangkalasean. Banjir dan meluapnya air yang menggenangi rumah warga murni faktor alam, tingginya curah hujan, adanya penumpukan sampah kayu dan terdapat pendangkalan sungai.

“Bagaimana mungkin perusahaan PT BSU dikait-kaitkan dengan meluapnya banjir, sementara aktivitas perusahaan sangat jauh dari perkampungan dan sungai serta dibatasi pegunungan. Posisi perkampungan Desa Batu Mandi dan Daerah Aliran Sungai (DAS) berada di bagian barat, sedangkan PT BSU di bagian Timur dekat laut. Lebih jauh lagi jaraknya ke Desa Pangkalasean, bahkan peristiwa banjir warga sudah melaporkan langsung kepada Gubernur Sulteng, Anwar Hafid via telpon video call,” tandas Ketua BPD Desa Batu Mandi Simeon Bintang kepada Radar Sulteng, Jum’at (3/4) di kediamannya.

Ketua BPD dan tokoh masyarakat dan aparat desa Batu Mandi saat diwawancara Radar Sulteng dilokasi pasca banjir. (Dok. Naning/ Radar Sulteng).

Hal ini juga diamini tokoh Agama, Imam Desa Hasrudin Polimengo dan Pendeta GKLB Imanuel Desa Batu Mandi, Rivan Sandi Tiak, bahwa peristiwa meluapnya banjir yang menggenangi rumah warga disebabkan intensitas dan curah hujan yang ekstrem yang melampaui kapasitas aliran sungai (drainase) warga dan terdapatnya pendangkalan sungai alami.

“Tidak benar kalau peristiwa banjir yang menimpa Desa Batu Mandi dan Desa Pangkalasean dikait-kaitkan dengan keberadaan PT BSU. Justru masyarakat sangat berterima kasih kepada pihak perusahaan yang telah membantu secara sukarela membersihkan dan mengeruk sungai akibat adanya pendangkalan sungai dan sampah kayu pasca banjir, yang disebabkan intensitas dan curah hujan yang tinggi. Selain itu, penyebab banjir lainnya akibat kiriman air dari area perbukitan yang tinggi, dan tersumbat beberapa drainase warga yang terlalu kecil,” ujar Hasrudin dan Rivan.

Selain itu, tokoh masyarakat yang juga mantan Kades Desa Batu Mandi, Ruslan Sanu angkat bicara dan membantah keras kalau PT BSU dituding seolah pihak perusahaan dampak penyebab banjir. Meluapnya sungai akibat curah hujan yang tinggi dan aktivitas manusia yang tidak memperhatikan keseimbangan lingkungan.

“Tidak ada hubungannya PT BSU dengan banjir. Jangan bawa-bawa nama masyarakat Desa Batu Mandi dan Desa Pangkalasean. Kalau ada yang mengatasnamakan masyarakat, silahkan tunjukkan masyarakat mana yang menuding perusahaan penyebab banjir. Bukan kami membela perusahaan. Kami berbicara fakta. Justru masyarakat sangat berterima kasih kepada pihak PT BSU yang telah bergerak cepat dengan memberikan fasilitas bantuan alat berat dua buah excavator untuk melakukan pengerukan sungai dari pendangkalan dan membersihkan aliran sungai dalam pemulihan pasca banjir untuk kepentingan masyarakat,” tandas Ruslan.

Disisi lain, lanjut Ruslan, keberadaan perusahaan PT BSU lokasinya secara teknis terisolasi dari aliran sungai dan perkampungan warga, karena memang lokasinya jauh dan berlawanan arah serta terhalang gunung. Saat ini, keberadaan perusahaan telah banyak membantu masyarakat. (MT)

BERITA TERKAIT >

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI >

Warga Poboya Dorong Join Operation Kijang 30

0
PALU, – Masyarakat Kelurahan Poboya, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, melalui Pokja Pertambangan terus mendorong kesepakatan kerja sama dengan PT. Citra Palu Mineral (CPM) dalam...

TERPOPULER >