Target 30 Emas PON 2028 NTT dan NTB
PALU, – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulawesi Tengah membuka peluang mutasi atlet dari luar daerah serta mendorong pelaksanaan pemusatan Latihan atau training center (TC) hingga ke luar negeri sebagai bagian dari persiapan menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028. Program ini dirancang untuk memenuhi target 30 emas PON 2028 di NTT dan NTB agar bisa masuk 10 besar.
Hal itu disampaikan Ketua Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres) KONI Sulteng, Dr. Gunawan SOR MOR, dalam Rapat Koordinasi bersama Pengurus Provinsi (Pengprov) cabang olahraga (cabor) unggulan olimpik dan non olimpik, yang digelar di Aula Sekretariat KONI Sulteng, Senin (6/4/2026).
Rapat koordinasi tersebut dipimpin langsung oleh Ketua Umum KONI Sulawesi Tengah Muhammad Fathur Razaq, S.IP, didampingi Sekretaris Umum H. Andi Nur B Lamakarate, Bendahara Umum Moh. Rendy Siara, Ketua Harian Moh. Ifan Taufan, serta sejumlah kepala bidang di lingkungan KONI Sulteng.
Menurut Gunawan, KONI memberikan ruang bagi pengprov untuk melakukan mutasi atlet guna memperkuat tim, selain tetap mempersiapkan atlet-atlet lokal yang telah dibina selama ini.
“Peluang mutasi atlet kami buka. Kami memberi ruang kepada pengprov untuk melakukan mutasi atlet, selain mempersiapkan atlet lokal yang sudah ada,” ujarnya.
Selain mutasi atlet, program TC di dalam maupun luar negeri juga menjadi bagian penting dalam skema roadmap pembinaan menuju PON 2028.
Gunawan menyebutkan, dalam skema tersebut telah dirancang agenda try out dan TC sesuai kebutuhan masing-masing cabang olahraga.
“Dalam skema roadmap yang kita bangun, ada try out dan TC. Bagi cabor yang ingin melaksanakan TC di luar negeri, silakan disiapkan. Ini sudah kami sampaikan dalam rapat perdana dan didukung oleh Ketua Umum KONI Sulteng,” katanya.
Ia menjelaskan, pemilihan negara tujuan TC harus disesuaikan dengan keunggulan cabang olahraga di negara tersebut. Misalnya, cabang olahraga panjat tebing didorong untuk melaksanakan TC di Jepang yang dikenal memiliki prestasi kuat di cabang tersebut.
“Hampir semua cabang olahraga diarahkan untuk TC di luar negeri, terutama menjelang babak kualifikasi PON maupun PON,” jelasnya.
Gunawan menegaskan, strategi tersebut diperlukan karena persaingan antar daerah semakin ketat. Ia menyebut daerah seperti DKI Jakarta dan Jawa Barat telah lebih dulu menerapkan strategi serupa dengan mengirim atlet berlatih ke luar negeri.
“Kompetitor kita sudah melakukan hal yang sama. Kalau kita ingin bersaing dengan mereka, mau tidak mau kita harus go internasional,” tegasnya.
Terkait pembiayaan, Gunawan mengungkapkan bahwa dukungan anggaran tidak hanya berasal dari pemerintah, tetapi juga melalui skema sponsorship atau program bapak angkat untuk membantu pencapaian target prestasi.
Sementara itu, terkait mutasi atlet, meski belum seluruhnya mengajukan proposal resmi, sejumlah cabang olahraga telah menyatakan rencana untuk mendatangkan atlet dari luar daerah. Beberapa di antaranya yakni Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), tenis meja, anggar, senam, dan soft tenis. (bar)






