back to top
Rabu, 28 Januari 2026
BerandaINDONESIAPuasa dan Doa, Tetes Hujan, Setengah Keping Biskuit di...

Puasa dan Doa, Tetes Hujan, Setengah Keping Biskuit di Tengah Laut

Oleh: Zahra Nurizka Bambang

Laut Sulawesi mungkin terlihat seperti permadani biru yang memukau jika dilihat dari kejauhan. Garis pantai yang melengkung lembut dan ombak yang menyapu pasir dengan lembut sering kali menjadi daya tarik bagi siapa saja yang melihatnya.

Kabar68, – Namun bagi Bandir, seorang pria berusia lebih dari enam dekade yang telah merasakan amukan lautan itu selama kurang lebih 13 hari, laut adalah sebuah medan perjuangan di mana setiap detiknya menjadi perbedaan antara hidup dan mati. Di atas kapal kayu yang mulai rusak dan diterjang ombak dengan kejam, ia berdiri sebagai saksi sekaligus pelindung bagi 15 nyawa yang perlahan mulai kehilangan nyala harapan.

Ada pemandangan yang menggetarkan batin dan tak akan pernah terlupakan oleh Bandir selama masa penantian yang menyiksa itu. Tangan-tangannya yang sudah berkerut akibat usia dan berbagai perjuangan hidup memiliki dua fungsi tunggal selama mereka terombang-ambing tanpa arah di tengah lautan yang luas dan tak berpenghuni. Ketika matahari berada tepat di atas kepala dan memancarkan panas yang membakar kulit hingga menyebabkan luka bakar pada wajah dan tubuh setiap penumpang, tangan itu akan terangkat tinggi ke arah langit yang cerah. Bibirnya yang pecah-pecah akibat kekeringan tak pernah henti menggumamkan doa, memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bandir mengaku sepanjang berada di tengah laut, tangannya terus menengadah ke atas berdoa memohon pertolongan kepada Tuhan. Ia mengaku saat itu seperti sedang berpuasa di tengah sengatan matahari di laut, namun doanya tidak pernah putus. Ketika awan mulai menghitam dan langit akhirnya menurunkan hujan dengan deras, tangan yang sama segera berubah menjadi cawan darurat yang sangat berharga. Ia dengan cermat menampung setiap tetes air hujan dengan telapak tangannya yang terbentang lebar, kemudian dengan hati-hati membagikannya untuk membasahi tenggorokan delapan anak-anak yang wajahnya mulai memutih akibat dehidrasi berat. Salah satunya adalah seorang bayi berusia enam bulan yang menjadi bagian dari delapan anak-anak yang turut bersama mereka di kapal tersebut.

Peristiwa tersebut bermula pada hari yang mereka rencanakan dengan harapan bisa sampai di tujuan. Mereka berangkat dengan harapan bisa tiba di Tawi-Tawi setelah singgah-singgah di beberapa pulau kecil di sepanjang rute perjalanan. Awalnya perjalanan berjalan cukup lancar, namun tak disangka, sebuah kejadian tak terduga mengubah segalanya.

“Jam tiga subuh kami naik sampan, singgah-singgah di pulau-pulau. Selepas itu kami meneruskan perjalanan ke Tawi-Tawi. Setelah jam 10 kami terjatuh, bodi sampan saya terkena kayu di bawah, lalu terbalik,” ungkapnya dengan raut wajah menyimpan banyak kesedihan.

Dalam sekejap, seluruh perbekalan makanan dan air minum yang mereka bawa dengan penuh kehati-hatian hanyut terbawa arus. Semua yang mereka miliki untuk perjalanan panjang hilang tak berbekas di dalam lautan yang luas. Hanya tersisa satu bungkus biskuit yang menjadi satu-satunya sumber energi yang bisa menyelamatkan nyawa mereka semua, termasuk seorang bayi yang masih sangat kecil dan lemah.

Bandir mengaku saat kapal terbalik, semua makanan mereka ikut hanyut dan hanya menyisakan satu bungkus biskuit yang mereka bagi dengan cara memotong dua setiap kepingnya. Proses pembagian biskuit itu dilakukan dengan sangat hati-hati, memastikan setiap orang mendapatkan bagian yang sama tanpa memandang usia atau kondisi fisik mereka. Setiap keping biskuit yang dipotong menjadi dua bagian kecil menjadi harapan baru bagi mereka untuk bisa bertahan satu hari lagi di tengah lautan yang tak kenal ampun.

Masa kritis yang panjang dan menyiksa itu akhirnya berakhir ketika mereka ditemukan oleh nelayan lokal dari Buol sekitar 72 mil dari daratan. Kapal mereka yang sudah rusak dan mengapung akhirnya terlihat oleh para nelayan yang sedang melakukan aktivitas di sekitar perairan tersebut. Setelah itu, mereka segera dibawa ke dermaga untuk mendapatkan pertolongan pertama yang sangat dibutuhkan.

Setibanya di Dermaga Poyapi, warga Buol segera memberikan bantuan dan pertolongan tanpa ragu. Mereka dengan senang hati memberikan apa yang mereka miliki untuk membantu sekumpulan warga asing yang terdampar dalam kondisi sangat lemah itu. Pemerintah Kabupaten Buol juga turut berperan aktif dalam memberikan bantuan medis dan dukungan lainnya. Mereka kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis yang diperlukan sebelum dievakuasi ke Palu guna menjalani perawatan lanjutan serta proses administrasi yang dibutuhkan.

Bandir mengungkapkan perasaannya setelah mendapat pertolongan. Ia mengaku sangat berterima kasih atas bantuan warga Buol. “Entah bagaimana kami kalau mereka tidak menolong, semua makanan yang mereka punya diberikan kepada kami,” ungkapnya dengan rasa syukur yang mendalam.

Kini, Bandir dan kawan-kawannya telah berada di Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu untuk menjalani karantina dan proses pendataan dokumen yang diperlukan untuk pemulangan mereka. Pihak imigrasi telah memberikan tempat tinggal yang memadai serta memenuhi kebutuhan logistik selama masa karantina dan proses administrasi berlangsung. Bantuan juga datang dari Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Tengah yang memberikan bahan makanan, makanan siap saji, peralatan mandi, pakaian, hingga obat-obatan dan vitamin untuk membantu mempercepat proses pemulihan mereka.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Palu, Muhammad Akmal, menyatakan pihaknya tengah mengintensifkan koordinasi dengan Konsulat Filipina di Manado untuk proses pemulangan para warga negara asing tersebut. Proses verifikasi status kewarganegaraan dilakukan secara cermat melalui pemeriksaan dan komunikasi dengan pihak konsulat. Rencananya, pemulangan akan dijadwalkan melalui Manado sebelum mereka akhirnya kembali ke tanah air.

Meskipun beberapa hari ke depan mereka masih harus melewati proses birokrasi yang mungkin memakan waktu tidak sedikit, Bandir dan teman-temannya menerima semua itu dengan lapang dada. Mereka menyadari proses tersebut diperlukan agar semuanya berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. Bandir mengaku pasrah terkait kepengurusan pemulangan mereka dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak imigrasi.

“Kami menunggu pengurusan kamu saja, apakah sampai satu bulan, satu tahun, apa-apa kami ikut arahan,” ujarnya dengan raut wajah pasrah dan sedikit senyum di akhir kalimat. (*)

BERITA TERKAIT >

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI >

Wujudkan Pelayanan Maksimal, Kejari Palu Kini Miliki Gedung Pintar

0
PALU- Gedung Pintar Kejaksaan Negeri Palu, diresmikan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulteng, Nuzul Rahmat. SH. MH, Selasa (27/1). Gedung yang di bangun dengan menggunakan anggaran dari...

TERPOPULER >