back to top
Senin, 16 Maret 2026
BerandaPALUCampak Jangan Dianggap Penyakit Biasa

Campak Jangan Dianggap Penyakit Biasa

Campak Kembali Mengancam: Ketika Imunisasi Diabaikan, Saatnya Palu Bergerak Sebelum Terlambat

Penyususun : Nurlayla Aminuddin & Windy Florence Vionita

KABAR68, – Munculnya kembali kasus campak di berbagai wilayah Indonesia seharusnya menjadi alarm keras bagi kita semua. Penyakit yang selama ini dianggap “lama” dan dapat dicegah dengan vaksin kini kembali mengintai anak-anak Indonesia. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan masalah kesehatan, tetapi juga mencerminkan lemahnya kesadaran masyarakat dan konsistensi kebijakan kesehatan publik.

Campak terlalu sering dianggap penyakit lama yang sudah selesai. Padahal kenyataannya justru sebaliknya. Hari ini, campak kembali tampil sebagai ancaman kesehatan global. Kasusnya meningkat di banyak negara, wabah berulang muncul di berbagai kawasan, dan anak-anak yang tidak memperoleh imunisasi lengkap kembali menjadi kelompok paling rentan. Ini seharusnya menjadi alarm keras bagi semua daerah di Indonesia, termasuk Kota Palu: campak bukan penyakit masa lalu, melainkan ancaman nyata pada masa sekarang.

Kekhawatiran itu bukan tanpa dasar. Laporan WHO dan UNICEF menunjukkan bahwa wabah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, termasuk campak, sedang meningkat secara global. Pada 2024, ratusan ribu kasus campak tercatat di dunia, dan di Eropa serta Asia Tengah jumlahnya bahkan mencapai titik tertinggi dalam lebih dari 25 tahun. Fakta ini menegaskan satu hal penting: ketika cakupan imunisasi menurun, kewaspadaan melemah, dan respons kesehatan publik terlambat, campak akan kembali mencari korban.

Dalam konteks itu, artikel ilmiah Bella Ainur Rokhma, Qiara Hasna Azzahro, dan Lucia Yovita Hendrati dalam Jurnal Berkala Epidemiologi tahun 2026 memberi pelajaran yang sangat penting. Penelitian kasus-kontrol tersebut menelaah faktor-faktor yang memengaruhi suspek campak pada balita di Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung. Hasilnya tegas: ketepatan waktu imunisasi campak menjadi faktor paling dominan. Selain itu, pengetahuan ibu dan sikap ibu terhadap imunisasi juga terbukti berpengaruh signifikan terhadap kejadian suspek campak pada balita.

Temuan ini layak dibaca lebih dari sekadar angka statistik. Anak yang terlambat mendapatkan imunisasi campak memiliki risiko jauh lebih tinggi menjadi suspek campak. Begitu pula anak dari ibu yang pengetahuannya rendah atau sikapnya kurang mendukung imunisasi. Pesan terbesarnya jelas: campak tidak hanya berkaitan dengan keberadaan virus, tetapi juga dengan perilaku keluarga, kualitas komunikasi kesehatan, dan kemampuan sistem layanan memastikan imunisasi diberikan tepat waktu.

Di sinilah letak persoalan yang sering tidak disadari. Kita terlalu sering membahas campak seolah-olah ia semata urusan klinis, padahal sesungguhnya ini juga persoalan sosial. Campak tumbuh di ruang-ruang keraguan, keterlambatan, lupa jadwal, akses layanan yang belum merata, dan informasi yang tidak sampai ke rumah tangga. Karena itu, pencegahannya tidak cukup dengan ajakan umum semacam “ayo imunisasi”. Pencegahan campak harus dikerjakan secara lebih dekat, lebih disiplin, dan lebih tepat sasaran.

Situasi Indonesia sendiri menunjukkan bahwa ancaman itu tidak bisa disepelekan. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mengingatkan adanya dinamika peningkatan campak nasional dan global. Ribuan kasus suspek terus ditemukan, dan kematian masih terjadi. Fakta ini memperlihatkan bahwa perlindungan terhadap anak belum merata. Selama masih ada kantong-kantong anak yang belum atau terlambat imunisasi, potensi kejadian luar biasa akan selalu ada.

Lalu apa artinya bagi Kota Palu?

Palu tidak boleh merasa aman hanya karena belum melihat lonjakan besar setiap saat. Sebagai ibu kota provinsi dan pusat mobilitas di Sulawesi Tengah, Palu memiliki kondisi yang menuntut kewaspadaan lebih tinggi: perpindahan penduduk, aktivitas perdagangan, interaksi sekolah, dan kepadatan penduduk pada sejumlah kawasan. Dalam situasi seperti ini, satu kasus campak bukan hanya urusan satu rumah. Ia dapat menjadi awal rantai penularan yang cepat, terutama bila ditemukan terlambat dan menyebar pada kelompok anak yang belum terlindungi.

Karena itu, pelajaran dari jurnal tersebut sangat relevan untuk Palu. Jika faktor paling dominan adalah ketepatan waktu imunisasi, maka strategi kota ini harus dimulai dari memastikan tidak ada anak yang tertinggal jadwal. Jika pengetahuan ibu berpengaruh, maka edukasi publik harus diperkuat. Jika sikap keluarga menentukan, maka komunikasi kesehatan harus mampu membangun kepercayaan, bukan sekadar membagikan informasi.

Strategi pertama yang perlu dilakukan Kota Palu adalah memetakan anak yang belum imunisasi atau terlambat imunisasi sampai tingkat RT dan RW. Bahaya terbesar sering tersembunyi dalam angka cakupan yang tampak baik di atas kertas, tetapi menyisakan kantong-kantong kecil anak rentan di lapangan. Pemerintah kota melalui dinas kesehatan, puskesmas, posyandu, kader, dan kelurahan perlu memiliki data yang benar-benar hidup: siapa anaknya, di mana alamatnya, imunisasi apa yang belum didapat, dan kapan harus dikejar. Tanpa pemetaan seperti ini, pencegahan hanya akan bergantung pada asumsi.

Strategi kedua adalah memperkuat layanan jemput bola. Bila keterlambatan imunisasi merupakan faktor dominan, maka layanan kesehatan tidak boleh hanya menunggu warga datang. Posyandu keliling, kunjungan rumah untuk anak yang tertinggal, pengingat jadwal melalui telepon atau WhatsApp, serta sesi imunisasi tambahan yang lebih fleksibel bagi orang tua bekerja harus menjadi bagian dari kebijakan rutin. Banyak keluarga tidak menolak imunisasi, tetapi tertunda karena sibuk, lupa, atau akses yang tidak nyaman. Hambatan seperti ini harus diatasi dengan mendekatkan layanan kepada warga.

Strategi ketiga adalah memperbaiki komunikasi publik tentang campak. Pengetahuan ibu dalam penelitian tersebut bukan sekadar variabel akademik; ia menentukan keputusan nyata di rumah. Karena itu, pesan kesehatan harus lebih sederhana, jelas, dan berulang: campak sangat mudah menular, komplikasinya dapat berat, anak dapat menularkan bahkan sebelum ruam terlihat jelas, dan imunisasi adalah perlindungan yang paling efektif. Pesan seperti ini tidak cukup hanya ditempel di puskesmas. Ia harus hadir di posyandu, PAUD, sekolah, rumah ibadah, media lokal, dan kanal resmi pemerintah kota.

Strategi keempat adalah membangun sikap positif masyarakat terhadap imunisasi. Dalam banyak kasus, masalahnya bukan karena orang tua sama sekali tidak tahu, tetapi karena mereka ragu. Keraguan itu bisa datang dari kabar bohong di media sosial, kekhawatiran tentang efek samping, atau pengaruh lingkungan sekitar. Karena itu, Palu perlu melibatkan tokoh yang dipercaya warga: dokter anak, bidan, tokoh agama, ketua RT, guru, dan tokoh masyarakat. Dalam isu kesehatan, kepercayaan sering jauh lebih menentukan daripada banyaknya poster. Pesan yang datang dari figur yang dihormati biasanya lebih mudah diterima.

Strategi kelima adalah menjadikan sekolah sebagai benteng kedua pencegahan. Program imunisasi lanjutan dan BIAS harus dipastikan bukan sekadar kegiatan tahunan yang selesai pada hari pelaksanaan. Anak yang absen harus ditindaklanjuti, riwayat imunisasi harus diperiksa, dan koordinasi antara sekolah dengan puskesmas harus aktif. Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang penting untuk menutup celah perlindungan pada anak.

Strategi keenam adalah memastikan respons cepat terhadap setiap suspek campak. Begitu ada anak demam disertai ruam, sistem harus bergerak cepat: dicatat, dilaporkan, diverifikasi, dilacak kontaknya, dan diperiksa status imunisasinya. Kecepatan respons menentukan apakah satu kasus berhenti pada satu keluarga atau berkembang menjadi penularan yang lebih luas. Di sinilah disiplin surveilans, kerja puskesmas, dan koordinasi lintas tingkat pemerintahan diuji.

Strategi ketujuh adalah menempatkan data sebagai alat kerja utama. Dashboard pemantauan imunisasi, pencatatan digital, dan evaluasi rutin per kelurahan perlu dipakai untuk membaca wilayah mana yang tertinggal dan kelompok mana yang paling berisiko. Tanpa data yang baik, kota akan selalu bergerak setelah masalah membesar. Dengan data yang baik, kota bisa mencegah sebelum korban bertambah.

Pada akhirnya, campak mengajarkan satu hal sederhana: kota yang sehat bukan kota yang sibuk setelah wabah membesar, tetapi kota yang bekerja sebelum anak-anak jatuh sakit. Jurnal Rokhma, Azzahro, dan Hendrati memperlihatkan bahwa ketepatan waktu imunisasi, pengetahuan ibu, dan sikap keluarga adalah kunci penting untuk mencegah campak. Pelajaran ini seharusnya cukup bagi Palu untuk tidak menunggu giliran menjadi headline berikutnya.

Campak kini kembali mendunia. Kasusnya meningkat, kewaspadaan global sedang diuji, dan anak-anak yang perlindungannya tidak lengkap menjadi taruhan. Karena itu, Palu harus membaca ancaman ini dengan serius. Bukan dengan kepanikan, tetapi dengan langkah yang terukur: mendata anak rentan, menjemput keterlambatan imunisasi, memperkuat edukasi, membangun kepercayaan publik, mengaktifkan sekolah, dan mempercepat deteksi lapangan.

Campak jangan dianggap penyakit biasa. Ia selalu menemukan celah ketika negara, daerah, dan keluarga lengah. Maka bagi Palu, waktu terbaik untuk bergerak bukan nanti, melainkan sekarang.(*)

Penulis : Mahasiswa

Magister Kesehatan Masyarakat,

Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palu  TA. 2025-2026

BERITA TERKAIT >

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI >

Bupati Rizal Intjenae Tutup Lomba Race Run 2026 Balane

0
SIGI, - Ajang lomba lari sprint Race Run 2026 Balane yang digelar di Desa Balane, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi, resmi ditutup oleh Bupati Sigi...

TERPOPULER >