back to top
Senin, 6 April 2026
BerandaPALUBukan Sekadar Berani Cerdas

Bukan Sekadar Berani Cerdas

KABAR68, – IGNAS KLEDEN pada rubrik Cakrawala di Majalah Matra, 9 April 1987 menuliskan kerisauannya tentang sistem pendidikan kita. Sekitar 39 tahun berlalu, rasanya problem yang dirisaukannya belum banyak berubah.

Kemampuan bahasa Inggris (bahkan bahasa Indonesia) yang rendah. Kemampuan menulis dan berbahasa lisan yang lemah. Itu performance mahasiswa pada masa itu yang digambarkan Kleden.

Bagaimana dengan kini? Rasanya belum banyak berubah. Tentu sebuah pengecualian, para genius debat (dalam bahasa Inggris) dan peserta program semacam Indonesia International Student Mobility Awards ((IISMA) di zaman Menteri Nadiem Makarim.

Suatu hari pada 2023, saya diminta wartawan berkomentar tentang keberhasilan mahasiswa FH Untad meraih juara pertama pada debat konstitusi di Unhas.

Saya menilai pertanyaan itu bertujuan memberi kesempatan kepada saya, selaku Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, untuk menonjolkan peran pembinaan dalam keberhasilan  mahasiswa.

Tapi saya menjawab bahwa mahasiswa kami yang terlibat dalam event itu merupakan anak-anak yang sudah berprestasi sejak SMA bahkan SMP. Lebih jauh mereka sudah berprestasi sejak SD karena disiapkan oleh orang tua mereka dari rumah sejak dini.

Setiap tahun universitas selalu menerima mahasiswa lewat jalur prestasi yang kini disebut SNBP (seleksi nasional berdasarkan prestasi).

Tapi setiap tahun pula saya merasakan kesulitan menemukan mahasiswa yang berani berkompetisi dalam pemilihan mahasiswa berprestasi yang dilaksanakan secara berjenjang sampai ke tingkat nasional oleh kementerian.

Jalur prestasi sering kali tidak berbanding lurus dengan kinerja mahasiswa. Masalah ini mencakup dua kemungkinan: sekolah yang salah kirim atau setidaknya kurang akurat dalam memproyeksikan kemampuan siswa (mis-profiling), atau perguruan tinggi yang gagal menyediakan ekosistem pendukung untuk melejitkan potensi mereka.

Banyak mahasiswa yang pintar tapi sangat sedikit yang bisa berbahasa Inggris. Ada yang bisa berbahasa Inggris tapi tidak cukup memiliki kemampuan menulis. Ketiga kemampuan dasar itu pun masih harus ditunjang capaian unggulan (portofolio) akademik dan non akademik.

Kembali mengutip Kleden, pohon yang layu tidak disiram daunnya tapi harus disiram akarnya. Rumah merupakan akar pendidikan dan sekolah menjadi locus di mana akar itu tumbuh. Rumah tanggung jawab orang tua dan sekolah tanggung jawab pemerintah daerah.

Tahun 2024, hanya empat siswa asal Sulteng yang berhasil meraih Beasiswa Indonesia Maju (BIM) untuk kuliah S1 pada perguruan tinggi unggulan dunia di Australia, Belanda, dan Hongkong.

Di Pulau Sulawesi, posisi Sulteng masih di urutan kedua setelah Sulsel. Berarti ada provinsi di Pulau Sulawesi yang sama sekali tidak memiliki siswa yang lolos BIM pada tahun itu.

Tahun 2025, jumlah itu bahkan turun drastis. Tersisa hanya satu siswa yang lolos lewat Beasiswa Garuda. Pun dari lima siswa itu,  hanya berasal dari dua SMA di Kota Palu.

Bandingkan! Satu sekolah di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada tahun 2024, meloloskan 27 siswa ke luar negeri lewat BIM dan tahun 2025 meningkat tajam menjadi 50 siswa lewat Beasiswa Garuda.

Bayangkan! Satu sekolah di Boyolali mampu menembus BIM dan Beasiswa Garuda dengan jumlah jauh lebih besar dibandingkan seluruh Pulau Sulawesi.

Rasanya, melihat kemajuan di luar sana, Berani Cerdas saja belum cukup. Anak-anak kita harus dilatih agar Berani Berkompetisi. (*)

Oleh :
Rahmat Bakri

Wartawan Radar Sulteng

BERITA TERKAIT >

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI >

Warga Poboya Dorong Join Operation Kijang 30

0
PALU, – Masyarakat Kelurahan Poboya, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, melalui Pokja Pertambangan terus mendorong kesepakatan kerja sama dengan PT. Citra Palu Mineral (CPM) dalam...

TERPOPULER >