Gaya “Ceplas-Ceplos” Arnila Jadi Kekuatan Baru Parlemen
PALU, – Kursi pimpinan DPRD Provinsi Sulawesi Tengah resmi berganti. Hj. Arnila Hi. Moh. Ali dilantik sebagai Wakil Ketua I DPRD Sulteng dalam rapat paripurna yang digelar di Gedung DPRD, Jalan Moh. Yamin. (2/4).
Arnila, yang merupakan politisi Partai NasDem, resmi mengambil sumpah jabatan untuk sisa masa periode 2024–2029 menggantikan Aristan. Prosesi pelantikan ini dipimpin oleh Ketua DPRD Sulteng, Arus Abdul Karim, dan dihadiri oleh jajaran Forkopimda serta anggota dewan lainnya. Namun, dalam momen penting tersebut, Aristan selaku pejabat yang digantikan terpantau tidak hadir di ruang sidang paripurna.
Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Sulteng, Musliman, menilai pergantian dan absennya rekan sejawatnya itu sebagai bagian dari dinamika politik yang wajar. Menurutnya, setiap politisi harus siap dengan perubahan posisi jabatan.
“Pelantikan itu bagian dari mekanisme politik. Pergantian itu lumrah di mana-mana karena ada pembaharuan. Kita ini orang politik, pasti ada unsur politiknya, dan itu harus dimiliki oleh setiap anggota dewan secara personal,” ujar Musliman saat ditemui usai Paripurna.
Ia juga menambahkan bahwa dalam perjalanan karier politik, setiap orang pasti menemui hambatan atau kerikil. Sehingga harus siap dengan dua pilihannya yaitu berhasil atau gagal. Menurutnya gagal bukan berarti segalanya.
“Hari ini mungkin dia harus melewati itu kerikil-kerikil untuk bisa sukses ke depan. Yang sukses hari ini adalah mereka yang telah melalui kerikil-kerikil itu,” tambahnya.
Sebagai rekan kerja yang sama-sama duduk di Komisi III selama setahun lebih, Musliman mengaku paham betul dengan kapasitas Arnila. Ia menyebut Arnila punya latar belakang pengusaha entrepreneur yang membuatnya sangat peka terhadap situasi lapangan.
“Dia berkualitas, wawasannya bagus. Karena jiwanya entrepreneur, dia sangat tanggap dengan situasi. Itu hebatnya dia,” jelas Musliman.
Satu hal yang menurut Musliman menjadi ciri khas Arnila adalah gaya komunikasinya yang lugas atau “ceplas-ceplos”. Baginya, karakter seperti itu justru dibutuhkan di parlemen agar masalah rakyat tidak tersumbat oleh basa-basi.
“Memang ada ceplas-ceplosnya sedikit, tapi itu karakter dan itu dibutuhkan. Kalau semua pakai hati (perasaan), masalah tidak akan selesai. Tapi kalau ada yang bicara lepas, masalah jadi terungkap. Dari situ kita semua bisa berpikir cari jalan keluar,” jelasnya.
Selain itu Musliman juga menyampaikan, hadirnya Arnila di jajaran pimpinan sangat penting untuk memperjuangkan aspirasi pembangunan dan ekonomi yang selama ini mereka godok di Komisi III.
Menutup pernyataannya, Musliman menitipkan pesan agar Arnila tidak berubah meski sudah duduk di kursi pimpinan. “Pesan saya, tetaplah jadi Ibu Cica seperti yang selama ini kita kenal. Karena sosok dia itu adalah representasi dari semua yang ada di sini,” ungkapnya.(Zar)






