Siagakan 30 Unit Alkon Atasi Karhutla Avulua
PARIMO – Kebakaran hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) masih terus berlanjut hingga Kamis (5/2/2026). Dari pantauan media ini, api terus menyebar dari wilayah Avulua, Kecamatan Parigi Utara hingga ke desa tetangga yakni Desa Uevolo, Kecamatan Siniu.
Bupati Parimo H Erwin Burase, bersama Wabup, Abdul Sahid turun langsung ke lokasi kebakaran. Ditemui di lokasi, Bupati menegaskan bahwa untuk sementara pemerintah masih melakukan pencegahan secara manual. Karena kendaraan milik Damkar tidak bisa menembus lokasi kebakaran disebabkan medan terjal di atas gunung.
“Kita antisipasi cepat supaya tidak meluas dengan cara manual,”ujar Erwin.
Menurut Erwin, api terus menyebar disebabkan tiupan angin yang cukup kencang sehingga api terus membesar dan sangat membayahakan. Salah satu langkah antisipasi yang akan dilakukan adalah dengan menyiapkan mesin Alkon. Karena khususnya di wilayah Avulua terdapat sumber air yang bisa disedot menggunakan Alkon.
“Jangan sampai apinya menyebar, Nanti ada bantuan dari pertanian 30 unit alat Alkon yang akan kita pasang di situ,”kata Erwin.
Bupati juga tengah meminta bantuan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan yang sangat dibutuhkan adalah alat pemadaman manual dan baju tahan panas untuk digunakan memadamkan api. “Itu sudah disetujui, tetapi masih berproses,”jelas Erwin.
Sesuai data yang diungkapkan Erwin Burase, berdasarkan laporan di posko kurang lebih sebanyak 40 hektar yang terbakar sesuai data kemarin. Tetapi informasi dari provinsi via satelit diperkirakan sebanyak 90 hektar.
Sementara itu mengenai kebun milik warga yang menjadi korban kebakaran, bupati sudah memerintahkan sekda untuk mendata lahan perkebunan milik warga.
“Camat dan Kepala Desa (Kades) sudah kita minta untuk mendata kebun milik warga,”tandasnya.
Sekadar diketahui, Karhutla bukan hanya terjadi di Desa Avulua, tetapi juga terjadi Uevolo dan dua titik Desa Towera, Kecamatan Siniu.
Kekeringan Landa Desa Jonokalora, 421 KK Terdampak Krisis Air Bersih
Selain itu, bencana awal musim di Parimo juga merembet ke bencana kekeringan. Kekeringan berkepanjangan melanda Desa Jonokalora, Kecamatan Parigi Barat, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, sejak akhir tahun 2025 hingga awal Februari 2026. Kondisi tersebut menyebabkan krisis air bersih yang berdampak pada ratusan kepala keluarga.
Berdasarkan laporan BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, kemarau panjang yang disertai minimnya curah hujan mengakibatkan sumber-sumber air masyarakat, termasuk Sungai Jonokalora, mengalami penyusutan debit air hingga mengering. Akibatnya, ketersediaan air bersih bagi warga semakin terbatas.
Sebanyak 421 kepala keluarga atau 1.329 jiwa terdampak langsung akibat kekeringan ini,” kata Plt. Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, Ir. Asbudianto, S.T., M.Si, dalam laporan update kondisi bencana, Kamis (5/2/2026) pukul 09.00 WITA.
Dari jumlah tersebut, warga terdampak terdiri dari 771 jiwa laki-laki dan 558 jiwa perempuan. Meski demikian, BPBD memastikan tidak terdapat korban jiwa maupun pengungsi akibat kejadian ini.
Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD Provinsi Sulawesi Tengah bersama BPBD Kabupaten Parigi Moutong telah melakukan assessment di lokasi terdampak serta koordinasi lintas instansi. Upaya pemenuhan kebutuhan air bersih juga telah dilakukan melalui pendistribusian air menggunakan satu unit mobil tangki air TRC BPBD Provinsi Sulawesi Tengah dan satu unit trailer air bersih BPBD Kabupaten Parigi Moutong.
Selain itu, Pusdalops BPBD Provinsi Sulawesi Tengah turut melakukan survei dan pemetaan wilayah terdampak guna mendukung percepatan penanganan.
Namun hingga saat ini, krisis air bersih masih berlangsung. Warga Desa Jonokalora terpaksa mengambil pasokan air dari desa sekitar, seperti Desa Lebo, Baliara, dan Parigimpu, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
BPBD mencatat sejumlah kebutuhan mendesak, antara lain distribusi air bersih secara berkelanjutan, dropping air menggunakan mobil tangki, penyediaan tandon atau penampungan air sementara, serta pembuatan sumur bor sebagai solusi jangka menengah dan panjang.
Pemerintah daerah berharap adanya dukungan dari pemerintah pusat dan instansi terkait guna mempercepat penanganan krisis air bersih yang dialami masyarakat Desa Jonokalora. (Wan/Bar)






