back to top
Rabu, 28 Januari 2026
BerandaDAERAH7 Tahun Penyintas di Tiga Lokasi Huntara Belum Terima...

7 Tahun Penyintas di Tiga Lokasi Huntara Belum Terima Huntap

PALU- Sudah tujuh tahun lamanya penyintas bencana dahsyat 28 September 2018, Palu, Sigi, dan Donggala (Pasigala) masih banyak yang belum terima Hunian Tetap (Huntap).

Di Kota Palu, terdapat tiga lokasi yang masih bermukim di Huntara yakni, di belakang terminal Mamboro, Hutan Kota, dan Layana  (Dupa).

Rata-rata para penyintas di tiga lokasi tersebut telah mendaftarkan diri sebagai penerima bantuan Huntap, dengan memasukan dokumen kepemilikan lahan sebagai alas hak untuk mendapat Huntap dari pemerintah.

Namun hingga kini nama-nama mereka tidak terdaftar sebagai penerima Huntap, karena setiap memasukan data, nama-nama mereka selalu hilang.

Walaupun demikian, para penyintas tersebut tidak menyerah mereka terus berjuang agar hak-haknya segera di penuhi pemerintah, dalam hal ini Pemerintah Kota Palu, dan Pemerintah Provinsi Sulteng.

Sementara untuk bertahan hidup karena tidak lagi mendapatkan bantuan, masyarakat bekerja serabutan agar dapur terus mengepul.

Koordinator penyintas Huntara Mamboro, Layana dan Hutan Kota, Abdul Azis mengatakan, dirinya bersama penyintas lainnya terus berupaya agar bisa mendapatkan Huntap, seperti penyintas-penyintas lainnya, yang sudah terlebih dulu menempati Huntap di Tondo (belakang kampus Untad) dan Huntap Talise di Bukit Jabalnur, STQ.

“Kami terus berupaya agar bisa mendapatkan Huntap, walaupun saat itu di BPBD Kota Palu mengatakan bahwa tidak ada lagi penyintas, namun kami tetap berharap agar bisa diberikan,” ujarnya kepada Media ini, Minggu (25/2) di Huntara Mamboro.

Sementara itu, advokat rakyat Agussalim. SH, mengatakan, salam tujuh tahun dirinya terus mendampingi para penyintas untuk mendapatkan Huntap yang sudah di impi-impikan.

“Sudah tujuh tahun saya mendampingi penyintas di Mamboro, Hutan Kota dan Layana, dan selam tujuh tahun ini kami bersama LBH Sulteng, LBH Hukum Progresif, dan Front Penyintas Pasigala terus berupaya agar pemerintah bisa memberikan hunian kepada masyarakat yang terdampak bencana 2018 silam, karena mereka ini sudah tujuh tahun belum mendapat Huntap,” ujarnya.

Agus mengatakan, saat ini dirinya berupaya agar masyarakat penyintas di tiga lokasi tersebut bisa berkarya.

Untuk itu lanjut Agus, pihaknya akan melakukan pertemuan dengan Gubernur Sulteng H. Anwar Hafid, agar bisa memberikan bantuan usaha kepada penyintas yang masih bertahan di Huntara.

“Saya mengumpulkan masyarakat untuk membicarakan terkait bantuan usaha, dan harapan kami gubernur bisa memberikan bantuan usaha itu,” katanya.

Sementara itu salah seorang warga Huntara Mamboro mengaku, dirinya telah memberikan data-data rumah sebagai alas hak untuk mendapat Huntap ke Pemkot Palu, namun sampai saat ini belum juga mendapat kepastian bahwa dirinya bisa menerima Huntap.

“Sudah saya masukan data rumah waktu itu di BPBD Kota Palu, tapi katanya hilang, saya juga tidak tau kenapa bisa hilang, dan sudah sering kali saya tanyakan tetapi jawabannya tetap sama,” ungkapnya.

Dirinya mengaku memiliki lahan rumah yang tersapu tsunami pada 2818 silam di dekat Islamic Center Mamboro.

“Rumah saya di dekat Islamic Center Mamboro, hancur kena tsunami, dan saya masukan sebagai bukti kepemilikan rumah untuk bisa dapat Huntap, tapi sudah tujuh tahun tidak ada kejelasan dari pemerintah,” tandanya. (Lam)

BERITA TERKAIT >

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA TERKINI >

Satgas PKA Fasilitasi Konflik Lahan Warga Topogaro dengan PT BJS

0
PALU – Satuan Tugas Penyelesaian Konflik Agraria (Satgas PKA) Sulawesi Tengah memfasilitasi rapat penyelesaian konflik lahan antara warga Desa Topogaro, Kecamatan Bungku Barat, Kabupaten...

TERPOPULER >