Hidup Terkatung-katung Tanpa Kejelasan Pemerintah
PALU — Kehidupan masyarakat korban bencana 28 September 2018 silam di Huntara Mamboro sangat miris, dan nasibnya terkatung-katung tanpa kejelasan dari Pemerintah Kota Palu.
Harapan terbesar masyarakat yakni memiliki rumah layak huni, seperti hunian tetap (Huntap), serta bantuan lainnya.
Pasalnya, hidup di Huntara selama tujuh tahun dirasakan sangat menderita. Selain kondisi bilik yang sempit, tanah yang dibangun Huntara merupakan milik masyarakat setempat, yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan oleh pemilik lahan.
Untuk itu, masyarakat berharap ada upaya pemerintah untuk membangunkan hunian tetap, seperti yang sudah dinikmati oleh penyintas lainnya.
Di Huntara Mamboro terdapat belasan kepala keluarga yang belum mendapatkan Huntap dari pemerintah.
Rata-rata mereka yang masih menghuni Huntara Mamboro memiliki lahan sebagai alas hak untuk mendapat Huntap, namun sampai saat ini belum mendapatkan.
Menanggapi kemelut yang dihadapi warga Huntara Mamboro, Minggu (25/1), Advokat Rakyat Agus Salim berupaya memberi perhatian dengan mengajak warga Huntara Mamboro bertemu untuk mencari jalan keluar.
Agus Salim memfasilitasi warga Huntara Mamboro mengajukan proposal bantuan ekonomi kepada Gubernur Sulawesi Tengah agar warga bisa bertahan hidup.
“Saya minta agar dibuat proposal untuk diajukan kepada Pak Gubernur. Mungkin ada yang mau jual pulsa, beras, atau jualan lain, sambil kita berupaya Huntap,” ujarnya.
Ajakan tersebut mendapat sambutan antusias dari warga Huntara Mamboro yang menyatakan bersedia.
Dikoordinasi Asiz, warga mencatat nama-nama yang akan menerima bantuan tersebut. Terdapat 34 nama yang siap dibantu untuk menunjang perekonomian mereka. (Lam)






