Kabar68PALU – Sejumlah siswa SMK Bina Potensi Palu dan MTs Sis Al Jufri Tatura Palu yang berada dalam satu kompleks yayasan, mengalami gejala keracunan setelah menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan melalui program penyediaan konsumsi sekolah pada Senin (27/8). Sebagian besar siswa mengeluhkan mual, pusing, sakit perut, hingga sesak napas.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Bina Potensi Palu, Irmayani, menjelaskan kronologi kejadian tersebut.
Ia menyebut, makanan baru datang sekitar pukul 13.30 Wita, kemudian dibagikan kepada siswa pada pukul 14.00 Wita. Tak lama setelah itu, gejala keracunan mulai muncul.
“Sekitar setengah tiga sore anak-anak kami mulai mengeluh mual, pusing, sakit perut, bahkan ada yang wajah dan badannya merah sampai kesulitan bernapas,” kata Irmayani saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (28/8/2025).
Pihak sekolah sempat memberikan pertolongan pertama dengan air kelapa dan obat anti alergi, namun kondisi siswa tak membaik.
“Kami tidak tinggal diam, langsung membawa anak-anak kerumah sakit. Tujuh orang dibawa ke RS Budi Agung, tapi karenapenuh, akhirnya dirujuk ke RS BK Balai Keselamatan,” jelasnya.
Jumlah siswa yang dirawat terus bertambah. “Awalnya tujuh orang dari SMK, lalu menyusul satu siswa lagi setelah Magrib. Jadi total delapan orang dari SMK. Untuk MTs Sis Aljufrie juga ada lebih dari sepuluh siswa yang dibawa,” tambahnya.
Menurut Irmayani, sebagian besar siswa sudah diperbolehkan pulang setelah menjalani perawatan. Namun mereka belumkembali bersekolah karena masih membutuhkan istirahat.
Ia juga menuturkan bahwa kualitas makanan yang dibagikan sejak awal program sudah menimbulkan kecurigaan.
“Hari pertama nasi ada dua macam, ada yang tidak matang sama sekali, ada yang lembek sekali. Hari kedua malah nasi di MTs basi. Kalau di SMK sempat kami coba makan, alhamdulillah masih bagus,” ujarnya.
Irmayani berharap kejadian ini menjadi evaluasi serius bagi penyelenggara program makan gratis.
“Menurut saya, sebaiknya lebih selektif memilih penyalurmakanan. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi. Anak-anak kami butuh makanan yang bergizi dan benar-benarlayak,” tegasnya.
Ia menambahkan, pihak penyelenggara sudah menahan sementara distribusi makanan sambil menunggu hasil pemeriksaan.
“Kepala bagian program juga datang ke rumah sakit semalam. Katanya kalau hasilnya positif (terkontaminasi, red), penyediaakan ditutup dan diganti catering lain,” ungkapnya.
Meski beberapa orang tua sempat menyampaikan keluhan, Irmayani menegaskan mayoritas wali murid bisa menerimakarena anak-anak sudah mendapatkan perawatan.
“Mereka melihat anaknya sudah diinfus dan ada perubahan, jadi tidak sampai marah berlebihan,” katanya. (NAS)